Be Smart, Be Creative

Rabu, 19 September 2012

pendidikan karakter


Konsep Dasar Pendidikan Karakter
Pembangunan karakter yang merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, atas dasar itu, pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek “pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga “merasakan dengan baik atau loving good (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action). Pendidikan karakter menekankan pada habit atau kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan dan dilakukan.
Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Pendidikan karakter berfungsi (1) mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2) memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur; (3) meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia. Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.
Dengan adanya pendidikan karakter guru dapat mentransformasikan logika berpikir dan laku spiritual kepada para murid disertai dengan pengawasan terhadap tingkah laku (amanah) dan jaringan sosial (tabligh) yang sedang dilakukan oleh mereka.

http://dikdas.kemdiknas.go.id/application/media/file/Policy%20Brief%20Edisi%204.pdf

Ada 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan  karakter bangsa yang dibuat oleh Pendidikan Nasional.  Mulai tahun ajaran 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya. 18 nilai-nilai dalam pendidikan karakter menurut pendidikan nasional adalah:
1.      Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2.      Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3.      Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4.      Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5.      Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
6.      Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7.      Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8.      Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9.      Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10.  Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11.  Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
12.  Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13.  Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
14.  Cinta Damai
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
15.  Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16.  Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17.  Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18.  Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.               Depart5emen pendidikan nasional (2011 dalamhttp://ilmupendidikanagamaislam.blogspot.com/2011/10/18-nilai-dalam-pendidikan-karakter.html).

Sabtu, 15 September 2012

DIALOG ANTAR AGAMA: SUATU SOLUSI ATAU ANCAMAN


oleh:
Lisna Herdiana
Islam adalah agama besar dan tangguh. oleh karena itu, apabila sebagian golongan yang membenci Islam menyatakan kedengkiannya terhadap Islam secara terbuka, sama artinya mereka menghasut dan memprovokasi bangkitnya kaum Muslimin. Oleh karena itu mereka menggunaan kata-kata yang lunak sebagai senjata untuk membius kaum Muslimin dan memperdayakannya. Salah satunya dengan cara menyelenggarakan dialog antar agama yang bertujuan menciptakan suatu peradaban alternatif dengan cara mencari titik temu dan persamaan antara kedua agama dan kedua peradaban. Karena menurut pihak yang menyelenggarakan, perbedaan dalam Islam adalah hal yang wajar, malah pertentangan dan perselisihan yang tidak diizinkan.
Terlebih, dunia ini dipenuhi suku, agama, budaya dan lain-lain yang beraneka ragam, apabila mengingkari keanekaragaman/pluralitas berarti telah mengingkari kognitif manusia. Oleh karena itu, dialog antar agama adalah salah satu solusi untuk menyelesaikan perbedaan agama, karena setiap agama adalah benar menurut umatnya masing-masing. Sehingga akan tercipta kedamaian antar umat beragama.
Mereka menggunakan dalil untuk menyelenggarakan dialog tersebut, diantaranya:
 Dan jika seorang di antara kaum musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah.” (QS At-Taubah: 6),
atau dialog dengan kaum kafir,
Katakanlah, hai orang-orang kafir” (QS Al Kafirun: 1),
atau dialog dengan agama-agama yang ada dan diakui di dunia,
Katakanlah, ‘Hai ahli kitab, marilah menuju suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak ada yang kita sembah kecuali Allah, dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan.” (QS Ali Imran: 64).
Padahal persamaan antar agama dan antar peradaban adalah konsep yang kufur, karena hal ini merupakan seruan untuk menyamakan yang benar (haqq) dengan yang salah (bathil), antara diin yang haqq dengan agama yang menyimpang, antara keimanan dengan kekufuran. Sedangkan islam adalah agama yang sempurna, dalam Al-quran dijelaskan bahwa orang non Islam (yahudi dan nasrani) adalah orang-orang kafir.
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud membedakan antara Allah dan rasul-rasulNya dengan mengatakan bahwa ‘Kami beriman kepada yang sebagian (dari rasul-rasul itu) dan kami ingkar terhadap sebagian yang lain’ serta bermaksud mengambil jalan lain di antara yang demikian. Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir tersebut siksaan yang menghinakan.” (QS An Nisa’: 150-151)
Dan juga firman-Nya,
Orang-orang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur’an).” (QS Al Bayyinah: 1-2).
Wallahu ‘alam

Daftar Pustaka
Hizbut Tahrir. 2002. Hatmiyyah Shira’ Al Hadharat. Tanpa penerbit dan kota terbit

Qadim Zallum, abdul. 1996. Serangan Amerika Untuk Menghancurkan Islam. Pustaka Thariqul ‘Izzah :  _____

Jumat, 10 Februari 2012

sosiologi antropologi pendidikan


BAB  I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Sebagai mahluk sosial, setiap individu tidak mungkin hidup sendiri. Diperlukan interaksi ataupun komunikasi antar individu yang satu dengan individu yang lainnya. Dari hubungan yang dilakukan individu yang satu dengan yang lain terciptalah suatu kelompok yang tercipta dari adanya persamaan antar masing-masing individu yang mengikatkan diri untuk mencapai suatu tujuan bersama. Maka, terciptlah suatu kelompok ataupun lembaga, sebagai contoh terkecil adalah keluarga, lalu masyarakat sampai sebuah negara.
            Setelah tumbuh dalam lingkungan keluarga, seorang individu tumbuh dan berkembang di luar lingkungan keluarga. Salah satu lingkungan di luar keluarga yang akan dipelajari adalah lingkungan sekolah sebagai lingkungan pendidikan bagi  anak untuk mendapatkan pengetahuan dan pendidikan. Untuk itulah, perlu dipelajari sosiologi pendidikan dan ruang lingkup yang termasuk dalam sosiologi pendidikan untuk dapat mempelajari hubungan sosial dalam masyarakat.

1.2  RUMUSAN MASALAH

1.2.1        Apakah latar belakang sosiologi ?
1.2.2        Apakah pengertian sosiologi pendidikan ?
1.2.3        Apa saja yang termasuk ruang lingkup Sosiologi Pendidikan ?

1.3  TUJUAN

1.3.1        Mengetahui latar belakang sosiologi.
1.3.2        Mengetahui pengertian sosiologi pendidikan.
1.3.3        Mengetahui apa saja yang termasuk ruang lingkup sosiologi pendidikan.



BAB II
ISI

2.1 LATAR BELAKANG SOSIOLOGI
            Secara etimologis (asal kata) sosiologi berasal dari kata socious dan logos. socious dari bahasa Latin yang artinya teman, sedangkan logos dari bahasa Yunani yang artinya kata, perkataan, atau pembicaraan. Arti harfiah sosiologi adalah membicarakan, memperbincangkan teman pergaulan. Pengertian tersebut diperluas menjadi ilmu pengetahuan tentang pergaulan hidup manusia atau masyarakat.
            Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi termasuk rumpun ilmu-ilmu sosial (social sciences). Sosiologi lahir berkat seorang filosofis Perancis bernama Auguste Comte (1797-1857) dengan bukunya ”Course de Philosophie Positive ”. Ia menerangkan pendekatan-pendekatan umum untuk mempelajari masyarakat harus melalui urutan tertentu yang kemudian akan sampai pada tahap terakhir yaitu tahap ilmiah. Auguste Comte disebut sebagai ” Bapak Sosiologi ” karena dialah yang pertama kali memakai istilah sosiologi, dan mengkaji sosiologi secara sistematis, sehingga ilmu tersebut melepaskan diri dari filsafat dan berdiri sendiri sejak pertengahan abad ke-19 (1856).
            Kelahiran sosiologi ini tak bisa terlepas dari pemikiran para ahli terdahulu seperti Plato (227-347 sM) dan Aristoteles (384-322). Secara garis besar, Plato dalam teori sosialnya amat mementingkan masyarakat dibanding individu. Sedangkan aristoteles mempelajari tingkah laku manusia, baik sebagai individu maupun kelompok sejauh merupakan yang berkaitan dengan empat hal yaitu dalam mengungkapkan kecenderungan bawaan kepada kebersamaan dan solidaritas, dalam membentuk kelompok-kelompok khusus, dalam mendirikan Negara dan pemerintahan, dan dalam pengendalian sosial.
            Dalam penerapan ilmu sosiologi, kehadiran Emile Dukheim tidak dapat dihilangkan. Untuk pertama kali dalam bukunya yang berjudul “Bunuh Diri”(Suicide), Dukheim memakai metode penelitian dan analisis yang kuantitatif, dan peralatan konseptual yang disusun ke dalam teori. Di samping itu ia membentuk dan merintis juga sosiologi ilmiah dengan memakai riset yang historis dan kualitatif. Ia menggali baik masalah-masalah teori yang mendasari studi organisasi sosial manusia, maupun masalah-masalah metode.
Pengertian sosiologi sendiri menurut Auguste Comte adalah ilmu yang terutama mempelajari manusia sebagai mahluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya. Artinya sosiologi mempelajari segala aspek kehidupan bersama yang terwujud dalam asosiasi-asosiasi, lembaga-lembaga maupun peradaban.

2.2 PENGERTIAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN
Perubahan tatanan sosial kehidupan masyarakat Eropa pada sekitar awal abad ke-20 menyebabkan manfaat sosiologi menjadi penting dalam mendampingi proses-proses pendidikan di Eropa. Perkembangan tersebut merupakan efek dari revolusi sosial di berbagai penjuru wilayah Eropa yang memicu akselerasi perubahan arah perkembangan masyarakat Eropa. Era transisi perubahan sosial tersebut menimbulkan konsekuensi-konsekuensi logis yang tak terduga-duga kedatangannya, antara lain merebaknya keragu-raguan akan nilai dan tatanan normatif yang telah mapan mengalami erosi jika tidak dilakukan penguatan orientasi. Bantuan ilmu sosiologi dengan segala komponen konsepsionalnya mendapat sambutan positif dari kalangan praktisi pendidikan, sebagai wujud alternatif untuk memperkuat ketahanan sosial melalui pendidikan. Manifestasi tersebut ditandai dengan kelahiran sosiologi pendidikan sebagai produk keilmuan baru.
Beberapa pemikiran pakar mengenai sosiologi pendidikan yang dikemukakan oleh Ahmadi (1991). Menurut George Payne, yang kerap disebut sebagai bapak sosiologi pendidikan, mengemukakan secara konsepsional yang dimaksud dengan sosiolgi pendidikan adalah by educational sosiologi we the science whith desribes andexlains the institution, social group, and social processes, that is the spcial relationships in which or through which the individual gains and organizes experiences”. Payne menegaskan bahwa, di dalam lembaga-lembaga, kelompok-kelompok social, proses social, terdapatlah apa yang yang dinamakan social itu individu memproleh dan mengorganisir pengalamannya-pengalamannya. Inilah yang merupaka asepek-aspek atau prinsip-prinsip sosiologisnya.
Charles A. Ellwood mengemukakan bahwa Education Sosiologi is the sciense aims to reveld the connetion at all points between the cdukative process and the social, sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari menuju untuk melahirkan maksud hubungan-hubungan antara semua pokok-pokok masalah antara proses pendidikan dan proses social.
Menurut E.B Reuter, sosiologi pendidikan mempunyai kewajiban untuk menganalisa evolusi dari lembaga-lembaga pendidikan dalam hubungannya dengan perkembangan manusia, dan dibatasi oleh pengaruh-pengaruh dari lembaga pendidikan yang menentukan kepribadian social dari tiap-tiap individu. Jadi perinsipnya antara individu dengan lembaga-lembaga social itu selalu saling pengaruh mempengaruhi (process social interaction).
F.G Robbins dan Brown mengemukakan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan social yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasi pengalamannya. Sosiologi pendidikan mempelajari kelakukan social serta perinsip-perinsip untuk mengontrolnya.
E.G Payne secara spesifik memandang sosiolgi pendidikan sebagai studi yang konfrenhensif tentang segala aspek pendidikan dari segi ilmu yang diterapkan. Bagi Payne sosiologi pendidikan tidak hanya meliputi segala sesuatu dalam bidang sosiologi yang dapat dikenakan analisis sosiologis. Tujuan utamanya ialah memberikan guru-guru, para peneliti dan orang lain yang menaruh perhatian akan pendidikan latihan yang serasi dan efektif dalam sosiologi yang dapat memberikan sumbangannya kepada pemahaman yang lebih mendalam tentang pendidikan (Nasution 1999:4)
Menurut Dictionary of Socialogy, sosiologi pendidikan ialah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental.
Menurut Prof. DR.S.Nasution. Sosiologi pendidikan ialah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih baik.
Menurut F.G. Robbins, Sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang bertugas menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan.
Kajian sosiologi pendidikan menekankan implikasi dan akibat sosial dari pendidikan dan memandang masalah-masalah pendidikan dari sudut totalitas lingkup sosial kebudayaan, politik dan ekonomisnya bagi masyarakat. Apabila psikologi pendidikan memandang gejala pendidikan dari konteks perilaku dan perkembangan pribadi, maka sosiologi pendidikan memandang gejala pendidikan sebagai bagian dari struktur sosial masyarakat.
Dilihat dari objek penyelidikannya sosiologi pendidikan adalah bagian dari ilmu sosial terutama sosiologi dan ilmu pendidikan yang secara umum juga merupakan bagian dari kelompok ilmu sosial. Sedangkan yang termasuk dalam lingkup ilmu sosial antara lain: ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu pendidikan, psikologi, antropologi dan sosiologi. Dari sini terlihat jelas kedudukan sosiologi dan ilmu pendidikan.
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan telah memiliki lapangan penyelidikan, sudut pandang, metode dan susunan pengetahuan yang jelas. Objek penelitiannya adalah tingkah laku manusia dan kelompok. Sudut pandangnya memandang hakikat masyarakat, kebudayaan dan individu secara ilmiah. Sedangkan susunan pengetahuannya terdiri dari atas konsep-konsep dan prinsip-prinsip mengenai kehidupan kelompok sosial, kebudayaan dan perkembangan pribadi. Objek penelitian sosiologi pendidikan adalah tingkah laku sosial, yaitu tingkah laku manusia dan institusi sosial yang terkait dengan pendidikan. Tingkah laku itu hanya dapat dimengerti dari tujuan, cita-cita atau nilai-nilai yang dikejar. Sebagaimana dalam terminologi sosiologi, sosiologi pendidikan berbicara tentang pandangan tentang kelas, sekolah, keluarga, masyarakat desa, kelompok-kelompok masyarakat dan sebagainya, masing-masing terangkum dalam wilayah suatu sistem sosial. Tiap-tiap system sosial merupakan kesatuan integral yang mendapat pengaruh dari (1) sistem sosial yang lain, (2) lingkungan alam, (3) sifat-sifat fisik manusia dan (4) karakter mental penghuninya.
Sosiologi pendidikan telah memiliki lapangan penyelidikan, sudut pandang, metode dan susunan pengetahuan yang jelas.
Menurut Dodson (dalam Faisal dan Yasik, 1985) sosiologi pendidikan mempersoalkan pertemuan dan percampuran dari lingkungan sekitar kebudayaan secara totalitas sedemikian rupa sehingga terbentuknya tingkah laku tertentu dan sekolah atau lingkungan pendidikan dianggap sebagai bagian dari total cultural miliu. Selaras dengan pendapat di atas, E. Goerge Payne (dalam Faisal dan Yasik, 1985) yang merupakan bapak sosiologi pendidikan memberikan penekanan bahwa dalam lembaga-lembaga, kelompok-kelompok sosial dan proses sosial terdapat hubungan yang saling terjalin, di mana di dalam interaksi sosial itu individu memperoleh dan mengorganisasikan pengalamannya. Penjelasan tersebut melekat kuat aspek sosiologisnya. Sementara dari segi pedagogisnya, bahwa seluruh individu dan masyarakat dari anak-anak sampai orang dewasa, kelompok-kelompok sosial dan proses-proses sosialnya, berlangsung di seputar sistem pendidikan yang selalu bergerak dinamis.

2.3 RUANG LINGKUP SOSIOLOGI PENDIDIKAN
Menurut brookoover dibagi menjadi 4 kategori
1. Hubungan sistem pendidikan dengan sistem sosial lain yang meliputi:
A. hubungan antara sistem pendidikan dengan proses sosial dan perubahan kebudayaan;
Sistem Pendidikan Nasional ditetapkan melalui undang-undang berupa Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 dan ditetapkan pada tanggal 27 Maret 1989.
B. fungsi sistem pendidikan formal di dalam proses pembaharuan sosial;
C. hubungan antara sistem pendidikan di dalam proses pengendalian sosial ;
D. hubungan antara sistem pendidikan dengan publik opini;
E. Hubungan antara pendidikan dengan kelas sosial atau sistem status;
F. keberartian pendidikan sebagai simbol terpercaya di dalam kebudayaan demokratis.


2. Hubungan sekolah dengan komuniti sekitarnya, meliputi:
a. Analisis terhadap struktur kekuasaan di masyarakat beserta implikasinya terhadap sekolah;
b. Analisis terhadap hubungan antara sistem sekolah dengan sistem-sistem sosial lainnya di masyarakat;
            c. Struktur masyarakat beserta pengaruhnya terhadap organisasi sekolah.
3. Hubungan antar manusia dalam sistem persekolahan, meliputi:
            a. Ciri budaya sekolah, terutama yang jelas-jelas berbeda dengan budaya luar sekolah;
            b. Ciri pola stratifikasi di dalam persekolahan;
            c. Hubungan antara guru dengan murid
            d. Analisis terhadap struktur kelompok kekeluargaan di dalam sistem persekolahan;
            e. Ciri pola kepemimpinan struktur kekuasaan di dalam bermacam-macam sekolah.
4. Pengaruh sekolah terhadap perilaku anak didik, meliputi;
            a. peranan sosial guru;
            b. ciri kepribadian guru;
            c. dampak kepribadian guru terhadap perilaku anak didik;
            d. ciri kepribadian guru
            e. dampak kepribadian guru terhadap perilaku anak didik;
       f. peranan sekolah di dalam pertumbuhan, penyesuaian atau penyimpangan anak di dik;
g. ciri-ciri perilaku yang timbul karena tingkat keotoriteran dan kedemokrasian di lingkungan sekolah.




BAB III
PENUTUPAN
3.1 KESIMPULAN
            Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sosial atau masyarakat. Ketika sosiologi tersebut membahas tentang pendidikan maka disebut sosiologi pendidikan. Sosiologi pendidikan ini termasuk dalam sosiologi khusus. Sosiologi pendidikan ini membahas tentang pendidikan yang terjadi di dalam masyarakat dan lingkungan pendidikan yang terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
3.2 SARAN
            Dengan dipelajarinya sosiologi pendidikan diharapkan agar tujuan dari pendidikan dan sosiologi pendidikan dapat tercapai dengan baik. Sehingga, terbentuklah suatu individu dan kelompok masyarakat yang terdidik. Dan pada akhirnya terbentuk suatu Negara yang memiliki masyarakat madani.