oleh:
Lisna Herdiana
Islam
adalah agama besar dan tangguh. oleh karena itu, apabila sebagian golongan yang membenci Islam
menyatakan kedengkiannya terhadap Islam secara terbuka, sama artinya mereka
menghasut dan memprovokasi bangkitnya kaum Muslimin. Oleh karena itu mereka
menggunaan kata-kata yang lunak sebagai senjata untuk membius kaum Muslimin dan
memperdayakannya. Salah satunya dengan cara menyelenggarakan dialog antar agama yang bertujuan
menciptakan suatu peradaban alternatif dengan cara mencari titik temu dan
persamaan antara kedua agama dan kedua peradaban. Karena menurut pihak yang menyelenggarakan, perbedaan dalam Islam adalah
hal yang wajar, malah pertentangan dan perselisihan yang tidak diizinkan.
Terlebih,
dunia ini dipenuhi suku, agama, budaya dan lain-lain yang beraneka ragam,
apabila mengingkari keanekaragaman/pluralitas berarti telah mengingkari
kognitif manusia. Oleh karena itu, dialog antar agama adalah salah satu solusi
untuk menyelesaikan perbedaan agama, karena setiap agama adalah benar menurut
umatnya masing-masing. Sehingga akan tercipta kedamaian antar umat beragama.
Mereka
menggunakan dalil untuk menyelenggarakan dialog tersebut, diantaranya:
“Dan jika seorang di antara kaum musyrikin
itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat
mendengar firman Allah.” (QS At-Taubah: 6),
atau dialog dengan kaum kafir,
“Katakanlah, hai orang-orang
kafir” (QS Al Kafirun: 1),
atau dialog dengan agama-agama yang
ada dan diakui di dunia,
“Katakanlah, ‘Hai ahli kitab,
marilah menuju suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara
kami dan kamu, bahwa tidak ada yang kita sembah kecuali Allah, dan tidak kita
persekutukan Dia dengan sesuatupun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan
sebagian yang lain sebagai tuhan.” (QS Ali Imran: 64).
Padahal
persamaan antar agama dan antar peradaban adalah konsep yang kufur, karena hal
ini merupakan seruan untuk menyamakan yang benar (haqq) dengan yang
salah (bathil), antara diin yang haqq dengan agama yang
menyimpang, antara keimanan dengan kekufuran. Sedangkan islam adalah agama yang
sempurna, dalam Al-quran dijelaskan bahwa orang non Islam (yahudi dan nasrani)
adalah orang-orang kafir.
“Sesungguhnya orang-orang yang
kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud membedakan antara Allah
dan rasul-rasulNya dengan mengatakan bahwa ‘Kami beriman kepada yang sebagian
(dari rasul-rasul itu) dan kami ingkar terhadap sebagian yang lain’ serta
bermaksud mengambil jalan lain di antara yang demikian. Merekalah orang-orang
yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir
tersebut siksaan yang menghinakan.” (QS An Nisa’: 150-151)
Dan juga firman-Nya,
“Orang-orang kafir dari golongan
ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan
meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu)
seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al
Qur’an).” (QS Al Bayyinah: 1-2).
Wallahu ‘alam
Daftar Pustaka
Hizbut Tahrir. 2002. Hatmiyyah Shira’ Al
Hadharat. Tanpa penerbit dan kota
terbit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar