Be Smart, Be Creative

Rabu, 19 September 2012

pendidikan karakter


Konsep Dasar Pendidikan Karakter
Pembangunan karakter yang merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, atas dasar itu, pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek “pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga “merasakan dengan baik atau loving good (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action). Pendidikan karakter menekankan pada habit atau kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan dan dilakukan.
Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Pendidikan karakter berfungsi (1) mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2) memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur; (3) meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia. Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.
Dengan adanya pendidikan karakter guru dapat mentransformasikan logika berpikir dan laku spiritual kepada para murid disertai dengan pengawasan terhadap tingkah laku (amanah) dan jaringan sosial (tabligh) yang sedang dilakukan oleh mereka.

http://dikdas.kemdiknas.go.id/application/media/file/Policy%20Brief%20Edisi%204.pdf

Ada 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan  karakter bangsa yang dibuat oleh Pendidikan Nasional.  Mulai tahun ajaran 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya. 18 nilai-nilai dalam pendidikan karakter menurut pendidikan nasional adalah:
1.      Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2.      Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3.      Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4.      Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5.      Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
6.      Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7.      Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8.      Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9.      Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10.  Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11.  Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
12.  Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13.  Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
14.  Cinta Damai
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
15.  Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16.  Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17.  Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18.  Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.               Depart5emen pendidikan nasional (2011 dalamhttp://ilmupendidikanagamaislam.blogspot.com/2011/10/18-nilai-dalam-pendidikan-karakter.html).

Sabtu, 15 September 2012

DIALOG ANTAR AGAMA: SUATU SOLUSI ATAU ANCAMAN


oleh:
Lisna Herdiana
Islam adalah agama besar dan tangguh. oleh karena itu, apabila sebagian golongan yang membenci Islam menyatakan kedengkiannya terhadap Islam secara terbuka, sama artinya mereka menghasut dan memprovokasi bangkitnya kaum Muslimin. Oleh karena itu mereka menggunaan kata-kata yang lunak sebagai senjata untuk membius kaum Muslimin dan memperdayakannya. Salah satunya dengan cara menyelenggarakan dialog antar agama yang bertujuan menciptakan suatu peradaban alternatif dengan cara mencari titik temu dan persamaan antara kedua agama dan kedua peradaban. Karena menurut pihak yang menyelenggarakan, perbedaan dalam Islam adalah hal yang wajar, malah pertentangan dan perselisihan yang tidak diizinkan.
Terlebih, dunia ini dipenuhi suku, agama, budaya dan lain-lain yang beraneka ragam, apabila mengingkari keanekaragaman/pluralitas berarti telah mengingkari kognitif manusia. Oleh karena itu, dialog antar agama adalah salah satu solusi untuk menyelesaikan perbedaan agama, karena setiap agama adalah benar menurut umatnya masing-masing. Sehingga akan tercipta kedamaian antar umat beragama.
Mereka menggunakan dalil untuk menyelenggarakan dialog tersebut, diantaranya:
 Dan jika seorang di antara kaum musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah.” (QS At-Taubah: 6),
atau dialog dengan kaum kafir,
Katakanlah, hai orang-orang kafir” (QS Al Kafirun: 1),
atau dialog dengan agama-agama yang ada dan diakui di dunia,
Katakanlah, ‘Hai ahli kitab, marilah menuju suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak ada yang kita sembah kecuali Allah, dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan.” (QS Ali Imran: 64).
Padahal persamaan antar agama dan antar peradaban adalah konsep yang kufur, karena hal ini merupakan seruan untuk menyamakan yang benar (haqq) dengan yang salah (bathil), antara diin yang haqq dengan agama yang menyimpang, antara keimanan dengan kekufuran. Sedangkan islam adalah agama yang sempurna, dalam Al-quran dijelaskan bahwa orang non Islam (yahudi dan nasrani) adalah orang-orang kafir.
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud membedakan antara Allah dan rasul-rasulNya dengan mengatakan bahwa ‘Kami beriman kepada yang sebagian (dari rasul-rasul itu) dan kami ingkar terhadap sebagian yang lain’ serta bermaksud mengambil jalan lain di antara yang demikian. Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir tersebut siksaan yang menghinakan.” (QS An Nisa’: 150-151)
Dan juga firman-Nya,
Orang-orang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur’an).” (QS Al Bayyinah: 1-2).
Wallahu ‘alam

Daftar Pustaka
Hizbut Tahrir. 2002. Hatmiyyah Shira’ Al Hadharat. Tanpa penerbit dan kota terbit

Qadim Zallum, abdul. 1996. Serangan Amerika Untuk Menghancurkan Islam. Pustaka Thariqul ‘Izzah :  _____