Be Smart, Be Creative

Jumat, 10 Februari 2012

sosiologi antropologi pendidikan


BAB  I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Sebagai mahluk sosial, setiap individu tidak mungkin hidup sendiri. Diperlukan interaksi ataupun komunikasi antar individu yang satu dengan individu yang lainnya. Dari hubungan yang dilakukan individu yang satu dengan yang lain terciptalah suatu kelompok yang tercipta dari adanya persamaan antar masing-masing individu yang mengikatkan diri untuk mencapai suatu tujuan bersama. Maka, terciptlah suatu kelompok ataupun lembaga, sebagai contoh terkecil adalah keluarga, lalu masyarakat sampai sebuah negara.
            Setelah tumbuh dalam lingkungan keluarga, seorang individu tumbuh dan berkembang di luar lingkungan keluarga. Salah satu lingkungan di luar keluarga yang akan dipelajari adalah lingkungan sekolah sebagai lingkungan pendidikan bagi  anak untuk mendapatkan pengetahuan dan pendidikan. Untuk itulah, perlu dipelajari sosiologi pendidikan dan ruang lingkup yang termasuk dalam sosiologi pendidikan untuk dapat mempelajari hubungan sosial dalam masyarakat.

1.2  RUMUSAN MASALAH

1.2.1        Apakah latar belakang sosiologi ?
1.2.2        Apakah pengertian sosiologi pendidikan ?
1.2.3        Apa saja yang termasuk ruang lingkup Sosiologi Pendidikan ?

1.3  TUJUAN

1.3.1        Mengetahui latar belakang sosiologi.
1.3.2        Mengetahui pengertian sosiologi pendidikan.
1.3.3        Mengetahui apa saja yang termasuk ruang lingkup sosiologi pendidikan.



BAB II
ISI

2.1 LATAR BELAKANG SOSIOLOGI
            Secara etimologis (asal kata) sosiologi berasal dari kata socious dan logos. socious dari bahasa Latin yang artinya teman, sedangkan logos dari bahasa Yunani yang artinya kata, perkataan, atau pembicaraan. Arti harfiah sosiologi adalah membicarakan, memperbincangkan teman pergaulan. Pengertian tersebut diperluas menjadi ilmu pengetahuan tentang pergaulan hidup manusia atau masyarakat.
            Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi termasuk rumpun ilmu-ilmu sosial (social sciences). Sosiologi lahir berkat seorang filosofis Perancis bernama Auguste Comte (1797-1857) dengan bukunya ”Course de Philosophie Positive ”. Ia menerangkan pendekatan-pendekatan umum untuk mempelajari masyarakat harus melalui urutan tertentu yang kemudian akan sampai pada tahap terakhir yaitu tahap ilmiah. Auguste Comte disebut sebagai ” Bapak Sosiologi ” karena dialah yang pertama kali memakai istilah sosiologi, dan mengkaji sosiologi secara sistematis, sehingga ilmu tersebut melepaskan diri dari filsafat dan berdiri sendiri sejak pertengahan abad ke-19 (1856).
            Kelahiran sosiologi ini tak bisa terlepas dari pemikiran para ahli terdahulu seperti Plato (227-347 sM) dan Aristoteles (384-322). Secara garis besar, Plato dalam teori sosialnya amat mementingkan masyarakat dibanding individu. Sedangkan aristoteles mempelajari tingkah laku manusia, baik sebagai individu maupun kelompok sejauh merupakan yang berkaitan dengan empat hal yaitu dalam mengungkapkan kecenderungan bawaan kepada kebersamaan dan solidaritas, dalam membentuk kelompok-kelompok khusus, dalam mendirikan Negara dan pemerintahan, dan dalam pengendalian sosial.
            Dalam penerapan ilmu sosiologi, kehadiran Emile Dukheim tidak dapat dihilangkan. Untuk pertama kali dalam bukunya yang berjudul “Bunuh Diri”(Suicide), Dukheim memakai metode penelitian dan analisis yang kuantitatif, dan peralatan konseptual yang disusun ke dalam teori. Di samping itu ia membentuk dan merintis juga sosiologi ilmiah dengan memakai riset yang historis dan kualitatif. Ia menggali baik masalah-masalah teori yang mendasari studi organisasi sosial manusia, maupun masalah-masalah metode.
Pengertian sosiologi sendiri menurut Auguste Comte adalah ilmu yang terutama mempelajari manusia sebagai mahluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya. Artinya sosiologi mempelajari segala aspek kehidupan bersama yang terwujud dalam asosiasi-asosiasi, lembaga-lembaga maupun peradaban.

2.2 PENGERTIAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN
Perubahan tatanan sosial kehidupan masyarakat Eropa pada sekitar awal abad ke-20 menyebabkan manfaat sosiologi menjadi penting dalam mendampingi proses-proses pendidikan di Eropa. Perkembangan tersebut merupakan efek dari revolusi sosial di berbagai penjuru wilayah Eropa yang memicu akselerasi perubahan arah perkembangan masyarakat Eropa. Era transisi perubahan sosial tersebut menimbulkan konsekuensi-konsekuensi logis yang tak terduga-duga kedatangannya, antara lain merebaknya keragu-raguan akan nilai dan tatanan normatif yang telah mapan mengalami erosi jika tidak dilakukan penguatan orientasi. Bantuan ilmu sosiologi dengan segala komponen konsepsionalnya mendapat sambutan positif dari kalangan praktisi pendidikan, sebagai wujud alternatif untuk memperkuat ketahanan sosial melalui pendidikan. Manifestasi tersebut ditandai dengan kelahiran sosiologi pendidikan sebagai produk keilmuan baru.
Beberapa pemikiran pakar mengenai sosiologi pendidikan yang dikemukakan oleh Ahmadi (1991). Menurut George Payne, yang kerap disebut sebagai bapak sosiologi pendidikan, mengemukakan secara konsepsional yang dimaksud dengan sosiolgi pendidikan adalah by educational sosiologi we the science whith desribes andexlains the institution, social group, and social processes, that is the spcial relationships in which or through which the individual gains and organizes experiences”. Payne menegaskan bahwa, di dalam lembaga-lembaga, kelompok-kelompok social, proses social, terdapatlah apa yang yang dinamakan social itu individu memproleh dan mengorganisir pengalamannya-pengalamannya. Inilah yang merupaka asepek-aspek atau prinsip-prinsip sosiologisnya.
Charles A. Ellwood mengemukakan bahwa Education Sosiologi is the sciense aims to reveld the connetion at all points between the cdukative process and the social, sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari menuju untuk melahirkan maksud hubungan-hubungan antara semua pokok-pokok masalah antara proses pendidikan dan proses social.
Menurut E.B Reuter, sosiologi pendidikan mempunyai kewajiban untuk menganalisa evolusi dari lembaga-lembaga pendidikan dalam hubungannya dengan perkembangan manusia, dan dibatasi oleh pengaruh-pengaruh dari lembaga pendidikan yang menentukan kepribadian social dari tiap-tiap individu. Jadi perinsipnya antara individu dengan lembaga-lembaga social itu selalu saling pengaruh mempengaruhi (process social interaction).
F.G Robbins dan Brown mengemukakan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan social yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasi pengalamannya. Sosiologi pendidikan mempelajari kelakukan social serta perinsip-perinsip untuk mengontrolnya.
E.G Payne secara spesifik memandang sosiolgi pendidikan sebagai studi yang konfrenhensif tentang segala aspek pendidikan dari segi ilmu yang diterapkan. Bagi Payne sosiologi pendidikan tidak hanya meliputi segala sesuatu dalam bidang sosiologi yang dapat dikenakan analisis sosiologis. Tujuan utamanya ialah memberikan guru-guru, para peneliti dan orang lain yang menaruh perhatian akan pendidikan latihan yang serasi dan efektif dalam sosiologi yang dapat memberikan sumbangannya kepada pemahaman yang lebih mendalam tentang pendidikan (Nasution 1999:4)
Menurut Dictionary of Socialogy, sosiologi pendidikan ialah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental.
Menurut Prof. DR.S.Nasution. Sosiologi pendidikan ialah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih baik.
Menurut F.G. Robbins, Sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang bertugas menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan.
Kajian sosiologi pendidikan menekankan implikasi dan akibat sosial dari pendidikan dan memandang masalah-masalah pendidikan dari sudut totalitas lingkup sosial kebudayaan, politik dan ekonomisnya bagi masyarakat. Apabila psikologi pendidikan memandang gejala pendidikan dari konteks perilaku dan perkembangan pribadi, maka sosiologi pendidikan memandang gejala pendidikan sebagai bagian dari struktur sosial masyarakat.
Dilihat dari objek penyelidikannya sosiologi pendidikan adalah bagian dari ilmu sosial terutama sosiologi dan ilmu pendidikan yang secara umum juga merupakan bagian dari kelompok ilmu sosial. Sedangkan yang termasuk dalam lingkup ilmu sosial antara lain: ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu pendidikan, psikologi, antropologi dan sosiologi. Dari sini terlihat jelas kedudukan sosiologi dan ilmu pendidikan.
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan telah memiliki lapangan penyelidikan, sudut pandang, metode dan susunan pengetahuan yang jelas. Objek penelitiannya adalah tingkah laku manusia dan kelompok. Sudut pandangnya memandang hakikat masyarakat, kebudayaan dan individu secara ilmiah. Sedangkan susunan pengetahuannya terdiri dari atas konsep-konsep dan prinsip-prinsip mengenai kehidupan kelompok sosial, kebudayaan dan perkembangan pribadi. Objek penelitian sosiologi pendidikan adalah tingkah laku sosial, yaitu tingkah laku manusia dan institusi sosial yang terkait dengan pendidikan. Tingkah laku itu hanya dapat dimengerti dari tujuan, cita-cita atau nilai-nilai yang dikejar. Sebagaimana dalam terminologi sosiologi, sosiologi pendidikan berbicara tentang pandangan tentang kelas, sekolah, keluarga, masyarakat desa, kelompok-kelompok masyarakat dan sebagainya, masing-masing terangkum dalam wilayah suatu sistem sosial. Tiap-tiap system sosial merupakan kesatuan integral yang mendapat pengaruh dari (1) sistem sosial yang lain, (2) lingkungan alam, (3) sifat-sifat fisik manusia dan (4) karakter mental penghuninya.
Sosiologi pendidikan telah memiliki lapangan penyelidikan, sudut pandang, metode dan susunan pengetahuan yang jelas.
Menurut Dodson (dalam Faisal dan Yasik, 1985) sosiologi pendidikan mempersoalkan pertemuan dan percampuran dari lingkungan sekitar kebudayaan secara totalitas sedemikian rupa sehingga terbentuknya tingkah laku tertentu dan sekolah atau lingkungan pendidikan dianggap sebagai bagian dari total cultural miliu. Selaras dengan pendapat di atas, E. Goerge Payne (dalam Faisal dan Yasik, 1985) yang merupakan bapak sosiologi pendidikan memberikan penekanan bahwa dalam lembaga-lembaga, kelompok-kelompok sosial dan proses sosial terdapat hubungan yang saling terjalin, di mana di dalam interaksi sosial itu individu memperoleh dan mengorganisasikan pengalamannya. Penjelasan tersebut melekat kuat aspek sosiologisnya. Sementara dari segi pedagogisnya, bahwa seluruh individu dan masyarakat dari anak-anak sampai orang dewasa, kelompok-kelompok sosial dan proses-proses sosialnya, berlangsung di seputar sistem pendidikan yang selalu bergerak dinamis.

2.3 RUANG LINGKUP SOSIOLOGI PENDIDIKAN
Menurut brookoover dibagi menjadi 4 kategori
1. Hubungan sistem pendidikan dengan sistem sosial lain yang meliputi:
A. hubungan antara sistem pendidikan dengan proses sosial dan perubahan kebudayaan;
Sistem Pendidikan Nasional ditetapkan melalui undang-undang berupa Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 dan ditetapkan pada tanggal 27 Maret 1989.
B. fungsi sistem pendidikan formal di dalam proses pembaharuan sosial;
C. hubungan antara sistem pendidikan di dalam proses pengendalian sosial ;
D. hubungan antara sistem pendidikan dengan publik opini;
E. Hubungan antara pendidikan dengan kelas sosial atau sistem status;
F. keberartian pendidikan sebagai simbol terpercaya di dalam kebudayaan demokratis.


2. Hubungan sekolah dengan komuniti sekitarnya, meliputi:
a. Analisis terhadap struktur kekuasaan di masyarakat beserta implikasinya terhadap sekolah;
b. Analisis terhadap hubungan antara sistem sekolah dengan sistem-sistem sosial lainnya di masyarakat;
            c. Struktur masyarakat beserta pengaruhnya terhadap organisasi sekolah.
3. Hubungan antar manusia dalam sistem persekolahan, meliputi:
            a. Ciri budaya sekolah, terutama yang jelas-jelas berbeda dengan budaya luar sekolah;
            b. Ciri pola stratifikasi di dalam persekolahan;
            c. Hubungan antara guru dengan murid
            d. Analisis terhadap struktur kelompok kekeluargaan di dalam sistem persekolahan;
            e. Ciri pola kepemimpinan struktur kekuasaan di dalam bermacam-macam sekolah.
4. Pengaruh sekolah terhadap perilaku anak didik, meliputi;
            a. peranan sosial guru;
            b. ciri kepribadian guru;
            c. dampak kepribadian guru terhadap perilaku anak didik;
            d. ciri kepribadian guru
            e. dampak kepribadian guru terhadap perilaku anak didik;
       f. peranan sekolah di dalam pertumbuhan, penyesuaian atau penyimpangan anak di dik;
g. ciri-ciri perilaku yang timbul karena tingkat keotoriteran dan kedemokrasian di lingkungan sekolah.




BAB III
PENUTUPAN
3.1 KESIMPULAN
            Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sosial atau masyarakat. Ketika sosiologi tersebut membahas tentang pendidikan maka disebut sosiologi pendidikan. Sosiologi pendidikan ini termasuk dalam sosiologi khusus. Sosiologi pendidikan ini membahas tentang pendidikan yang terjadi di dalam masyarakat dan lingkungan pendidikan yang terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
3.2 SARAN
            Dengan dipelajarinya sosiologi pendidikan diharapkan agar tujuan dari pendidikan dan sosiologi pendidikan dapat tercapai dengan baik. Sehingga, terbentuklah suatu individu dan kelompok masyarakat yang terdidik. Dan pada akhirnya terbentuk suatu Negara yang memiliki masyarakat madani.








UAS FILSAFAT PENDIDIKAN



1    Dalam menentukan tujuan, peran pendidik dan peserta didik, dan metodologi pendidikan  jhon S. Bucher berangkan dari permasalahan dalam filsafat. Permasalahan filsafat pendidikan dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) dimensi, yaitu dimensi metafisika, epistemology, dan aksiologi. Permasalahanmetafisika yang dibahas berkenaan dengan masalah ontologis dan antropologispendidikan, yaitu menyangkut permasalahan tujuan pendidikan dan hakikatmanusianya. Permasalahan epistemology membahas pada persoalan hakikat ilmu dan kebenaran ilmu yang diperoleh lewat upaya penyelidikan dan telaah yang mendalam yang disebut dengan metode ilmiah. Permasalahan aksiologis,mengkaji tentang kegunaan dan nilai suatu ilmu untuk kesejahteraan umat,demikian pula pendidikan memiliki nilai manfaat dalam meningkatkankeunggulan martabat manusia. Selain itu John S. Brubacher berpandangan bahwa,pendidikan selalu berusaha membentuk kepribadian manusia sebagai subyek sekaligus obyek pendidikan. Selain persoalan tujuan, seluruh aspek dalam pendidikan mulai dari konsep, perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi membutuhkan pemikiran filosofis. Dari sini kemudian lahirlah aliran-aliran pemikiran dalam filsafat pendidikan.

2. karena pendidikan dipengaruhi oleh faktor masyarakat, tatanan ekonomi, politik, dan dasar Negara, dimana tanpa masyarakat lembaga pendidikan tidak akan berjalan. Pada hakikatnya pendidikan di sekolah merupakan sarana mempersiapkan manusia untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan masyarakat, Oleh karena itu pendidikan harus mempertimbangkan aspek masyarakat, selain itu pendidikan pun bertujuan untuk mensejahterakan rakyatnya di bidang ekonomi,  sehingga dapat disimpulkan bahwa pendidikan  harus mempertimbangkan aspek ekonomi dan diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain paparan diatas, pendidikan di setiap Negara pasti dipengaruhi oleh politik dan dasar suatu Negara, ini dapat dilihat  dari tujuan, cara pelaksanaan, dan praktek pendidikan yang berbeda di setiap negara tergantung dari landasan Negara tersebut.
3. dalam perumusan tujuan pendidikan, peran pendidik dan anak didik, pemilihan materi, kurikulum serta metode pembelajaran di landasi oleh:

a)      Landasan filosofis pendidikan
Landasan filosofis pendidikan memberikan rambu-rambu apa dan bagaimana seharusnya pendidikan dilaksanakan. Landasan filosofis pendidikan tidaklah satu melainkan ragam sebagaimana ragamnya aliran filsafat. Misalnya aliran  Contoh: Penganut Realisme antara lainberpendapat bahwa “pengetahuan yang benar diperoleh manusia melaluipengalaman dria”. Implikasinya, penganut Realisme mengutamakan metodemengajar yang memberikan kesempatan kepada para siswa untuk memperolehpengetahuan melalui pengalaman langsung (misal: melalui observasi,praktikum, dsb.) atau pengalaman tidak langsung (misal: melalui membacalaporan-laporan hasil penelitian, dsb).
b)      Landasan ilmiah pendidikan
Landasan ilmiah pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari disiplin ilmu tertentu yang menjadi titik tolak dalam pendidikan. Jadi landasan ilmiah ini berfungsi sebagai titik tolak dari materi-materi pelajaran yang diusung oleh suatu sekolah.
c)      Landasan religi pendidikan
Landasan religi pendidikan, adalah seperangkat asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah agama/religi yang dijadikan landasan teori maupun praktek pendidikan, seperti halnya landasan ilmiah pendidikan, landasan religi juga diadikan titik tolak dalam penyampaian materi pelajaran yang dispesifikasikan lagI dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, sehingga keduanya ( landasan religi dan landasan  ilmiah pendidikan) mempengaruhi  pemilihan materi dalam proses pembelajaran.

d)     Landasan yuridis pendidikan
Landasan yuridis pendidikan adalah memberikan rambu-rambu tentang bagaimana pelaksanaan system pendidikan dan managemen pendidikan dilaksanakan selaras dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Disini dapat disimpulkan karena individu-individu  suatu Negara harus sama dalam hal penguasaan materi, maka disini adanya sebuah institusi yang menyamakan proses dan fungsi pendidikan, sehingga jelas bahwa fungsi dari landasan yuridis adalah  pembuat model kurikulum.
e)      Landasan psikologis pendidikan
Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam membantu proses tumbuh kembang itu secara efektif dan efisien.
f)       Landasan social-kultural
Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan/ dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baiksecara formal maupun informal.


4. Menurut Brubacher sistem filsafat pendidikan diklasifikasikan menjadi 6 mazhab, yaitu:
(1) pragmatisme, (2) naturalisme, (3) idealisme, (4) realisme naturalistik, (5)humanisme rasional, dan (6) supernaturalisme katolik. (1950, 297). Kedua, berpandangan bahwa filsafat pendidikan berakar dari konsep tentang suatu kenyataan akhir yang ideal, atau suatu kenyataan yang berada diluar atau melampaui pengalaman sehari-hari. Ada tiga mazhab yang termasuk dalam kelompok inio, yaitu: (1) realisme, (2) idealisme, dan (3) scholastisisme.  realisme, berpendapat bahwa kenyataan yang sebenarnya atau ideal adalah dunia obyektif, suatu dunia yang bebas dari setiap dan seluruh pengalaman manusia. Pada umumnya penganut mazhab realisme sependapat
bahwa filsafat pendidikan yang ideal dan benar adalah yang diturunkan atau dijabarkan dari struktur dunia obyektif. Oleh karena itu, tingkah laku dan pengetahuan yang benar itu didasarkan pada kenyataan yang obyektif, sehingga tujuan utama pendidikan adalah memahami kenyataan obyektif tersebut. Pengetahuan tentang bentuk-bentuk kenyataan obyektif menjadi isi pendidikan. Seperti : logika, gramatika, dan matematika harus diajarkan baik sebagai alat komunikasi maupun sebagai alat untuk menghayati kenyataan obyektif.
Idealisme, berpandangan bahwa kenyataan akhir atau kenyataan yang sebenarnya adalah spiritual/rokhaniah atau cita. Tujuan pendidikan adalah mengembangkan individu sebagai pribadi yang terbatas, dan ia mampu berbuat selaras dengan suatu kehidupan yang mulia. Tujuan ini dapat dicapai dengan cara mengekspresikan dirinya secara positif, dengan mempergunakan metode dialektis untuk mengembangkan kemampuan menilai dan menalar, yang bisa dicapai melalui pengajaran.
Scholastisisme, berpandangan bahwa kenyataan sebenarnya terdiri atas kenyataan fisik dan material serta kenyataan rohaniah dan cita yang lebih tinggi daripada kenyataan fisik dan material. Tujuan pendidikan adalah membantu individu mencapai tingkat tertinggi sebagai manusia, yaitu manusia yang berkembang penuh akal pikirannya, dan yang tunduk patuh kepada hukum Tuhan. Tujuan ini dapat dicapai melalui latihan berpikir dan latihan moral. Selain dari tiga mazhab tersebut, masih ada 5 aliran filsafat yang berpengaruh terhadap filsafat pendidikan, yaitu pragmatisme, humanisme, naturalisme romantik, eksistensialisme, dan neo positivisme.
Pragmatisme, berpandangan bahwa pengetahuan dan perbuatan bersatu tak terpisahkan, dan semua pengetahuan bersumber dari dan diuji kebenarannya melalui pengalaman. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan, dan kondisi optimum atau tertinggi dari pertumbuhan adalah kebebasan mengadakan penelitian bersama dengan urun pemikiran yang tidak terkekang dalam suatu sistem kerja sama yang terbuka. Metode pemecahan masalah yang telah dikembangkan dalam ilmu sebagai pendekatan ilmiah, juga merupakan metode belajar dalam pendidikan.
Humanisme rasional, pada umumnya berpandangan bahwa faktor yang paling penting dalam alam semesta adalah manusia dan kemanusiaan, dan rasionalitas manusia merupakan hal yang terpenting pada manusia dan kemanusiaan. Pendidikan hendaknya bertujuan mengembangkan kecerdasan, dengan melalui latihan berpikir dan mengenali tata hukum ilmu melalui ensiklopedia atau buku besar tentang ilmu yang telah dicapai dalam kebudayaan kita.
Naturalisme romantik berpandangan bahwa kenyataan dari alam adalah baik, mernjadi rusak karena tangan atau ulah manusia. Pendidikan adalah pendidikan alami dengan tujuan mengembangkan kemampuan-kemampuan yang telah diberikan oleh alam, yang pada dasarnya baik.
Eksistensialisme, berpandangan bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah bahwa manusia hidup di dunia tanpa tujuan, dan kehidupan ini pada dasarnya suatu teka-teki. Kemudian manusia mencoba mencari makna hidup di dunia, dengan jalan mewujudkan dirinya sebagai manusia. Oleh karena itu, tujuan utama pendidikan adalah membantu individu untuk mampu mewujudkan dirinya sebagai manusia. Metode pendidikannya dengan metode penghayatan (non directive atau absortive learning), dan metode dialog atau percakapan langsung.
Neo-Positivisme berpandangan bahwa kenyataan yang sebenarnya merupakan kerangka kerja yang berada dalam ruang, waktu, dan berlangsung hubungan sebab akibat (spatio – temporal – causal network). Pendidikan bertujuan mendorong perkembangan intelektual dan sosial individu. Pendidikan vmelalui pengalaman langsung, dan belajar menggunakan prosedur kerja ilmiah. Berdasarkan klasifikasi sikap dan orientasi pendidikan serta peranan pendidikan terhadap perubahan social, baik Brubacher maupun B.O Smith, mengklasifikasikan sistem-sistem filsafat pendidikan menjadi 4 aliran, yaitu (1) progresivisme (2) essensialisme, (3) perenialisme, (4) rekonstruksionisme.
Progresivisme, memandang sekolah sebagai alat untuk mempertahankan tradisi dan lembaga kehidupan dalam garis kemajuan ilmu dan teknologi. Oleh karena itu, tugas sekolah menghasilkan dan mempertahankan suatu tingkat integrasi sosial yang tinggi di antara berbagai aspek kehidupan masyarakat sekolah yang mengutamakan studi masalah-masalah sosial dengan mempergunakan metode pemecahan masalah yang sesuai dengan metode penelitian ilmiah.
Esensialisme, berpendapat bahwa sekolah berfungsi sebagai alat untuk memelihara warisan budaya. Sumbangan sekolah bagi perbaikan social tergantung pada keberhasilan mewariskan budaya. Sedangkan perenialisme berpendapat bahwa sekolah berfungsi sebagai suatu alat untuk memelihara dan memperbaiki masyarakat. Tetapi tradisi saja tidak cukup, sehingga diperlukan kestabilan yang ditopang oleh agama atau ajaran metafisika. Berbeda dengan ketiga aliran tersebut di atas, rekonstruksionalisme lebih mengutamakan pada pencapaian tujuan pendidikan. Tujuan sosial dalam rangka pembangunan masyarakat sekolah, tidak cukup hanya mengembangkan kemampuankemampuan memecahkan masalah-masalah sosial saja, tetapi lebih dari itu hendaknya mengembangkan kemampuan-kemampuan untuk melakukan pembangunan masyarakat. Sekarang bagaimana pendekatan filsafi terhadap pendidikan, sehingga menghasilkan konsep-konsep yang dapat digunakan dalam rangka memperbaiki dan mengkritisi masalah-masalah pendidikan secara empiric.

5. cara mengimplementasikan pandangan filsafat dalam praktek pendidikan adalah dengan menjadikan filsafat pendidikan sebagai dasar dan acuan dalam praktek pendidikan di sekolah. Misalnya pandangan filsafat eksistensialisme terhadap proses pembelajaran


 Implikasi Edukatif dari Filsafat Eksistensialisme
Murid

Makhluk rasional dengan kebebasan untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya, sesuai dengan pemenuhan tujuan personal
Tujuan Pendidikan
Menyediakan pengalaman yang luas dan komprehensif dengan segala bentuk kehidupan.
Kurikulum
Mengutamakan kebebasan karena “liberal learning”sangat mungkin melandasi “human freedom”. Pendidikan Sosial Kebebasan memiliki aturan, ini adalah urusanpendidikan sosial untuk mengajarkan penghargaan kepada kebebasan yang dimiliki semua orang, agar kebebasan tidak mengundang konflik
Peranan Guru
Melindungi dan menjaga kebebasan akademis, dimana guru hari ini dapat menjadi siswa esok hari,
Metode
Tidak ada perhatian khusus mengenai metode, tetapiapapun metode yang digunakan harus terarah kepada cara pencapaian kebahagiaan dan karakter yang baik.

.
6. Praktek  pendidikan di Sekolah Dasar  sekarang ini  belum sesuai dengan filsafat pendidikan pancasila, Hal ini dikarenakan pendidikan di Indonesia cenderung besifat sekuler, ini tidak sesuai dengan tujuan pendidikan filsafat pancasila yaitu menjadikan manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, hal ini dapat dilihat dari minimnya alokasi waktu untuk pendidikan Agama Islam yang hanya 2 jam per minggu, selain itu  filsafat pendidikan pancasila menggunakan metode pembelajaran berupa multimetode, hanya saja dalam fakta pendidikan di Indonesia dewasa ini, metode yang digunakan cenderung hanya metode dialektik, meskipun kurikulm pendidikan sering diganti, tapi praktek pendidikan cenderung kehilangan makna yang sebenarnya. Kebanyakan tenaga pendidik, khsusnya di lingkungan SD, Nampak tidak paham akan isi dari filsafat pendidikan pancasila, bahkan tidak dapat dipungkiri masih banyak pendidik di Indonesia yang tidak tahu landasan filosofis pendidikan  Indonesia./