Be Smart, Be Creative

Jumat, 10 Februari 2012

UAS FILSAFAT PENDIDIKAN



1    Dalam menentukan tujuan, peran pendidik dan peserta didik, dan metodologi pendidikan  jhon S. Bucher berangkan dari permasalahan dalam filsafat. Permasalahan filsafat pendidikan dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) dimensi, yaitu dimensi metafisika, epistemology, dan aksiologi. Permasalahanmetafisika yang dibahas berkenaan dengan masalah ontologis dan antropologispendidikan, yaitu menyangkut permasalahan tujuan pendidikan dan hakikatmanusianya. Permasalahan epistemology membahas pada persoalan hakikat ilmu dan kebenaran ilmu yang diperoleh lewat upaya penyelidikan dan telaah yang mendalam yang disebut dengan metode ilmiah. Permasalahan aksiologis,mengkaji tentang kegunaan dan nilai suatu ilmu untuk kesejahteraan umat,demikian pula pendidikan memiliki nilai manfaat dalam meningkatkankeunggulan martabat manusia. Selain itu John S. Brubacher berpandangan bahwa,pendidikan selalu berusaha membentuk kepribadian manusia sebagai subyek sekaligus obyek pendidikan. Selain persoalan tujuan, seluruh aspek dalam pendidikan mulai dari konsep, perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi membutuhkan pemikiran filosofis. Dari sini kemudian lahirlah aliran-aliran pemikiran dalam filsafat pendidikan.

2. karena pendidikan dipengaruhi oleh faktor masyarakat, tatanan ekonomi, politik, dan dasar Negara, dimana tanpa masyarakat lembaga pendidikan tidak akan berjalan. Pada hakikatnya pendidikan di sekolah merupakan sarana mempersiapkan manusia untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan masyarakat, Oleh karena itu pendidikan harus mempertimbangkan aspek masyarakat, selain itu pendidikan pun bertujuan untuk mensejahterakan rakyatnya di bidang ekonomi,  sehingga dapat disimpulkan bahwa pendidikan  harus mempertimbangkan aspek ekonomi dan diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain paparan diatas, pendidikan di setiap Negara pasti dipengaruhi oleh politik dan dasar suatu Negara, ini dapat dilihat  dari tujuan, cara pelaksanaan, dan praktek pendidikan yang berbeda di setiap negara tergantung dari landasan Negara tersebut.
3. dalam perumusan tujuan pendidikan, peran pendidik dan anak didik, pemilihan materi, kurikulum serta metode pembelajaran di landasi oleh:

a)      Landasan filosofis pendidikan
Landasan filosofis pendidikan memberikan rambu-rambu apa dan bagaimana seharusnya pendidikan dilaksanakan. Landasan filosofis pendidikan tidaklah satu melainkan ragam sebagaimana ragamnya aliran filsafat. Misalnya aliran  Contoh: Penganut Realisme antara lainberpendapat bahwa “pengetahuan yang benar diperoleh manusia melaluipengalaman dria”. Implikasinya, penganut Realisme mengutamakan metodemengajar yang memberikan kesempatan kepada para siswa untuk memperolehpengetahuan melalui pengalaman langsung (misal: melalui observasi,praktikum, dsb.) atau pengalaman tidak langsung (misal: melalui membacalaporan-laporan hasil penelitian, dsb).
b)      Landasan ilmiah pendidikan
Landasan ilmiah pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari disiplin ilmu tertentu yang menjadi titik tolak dalam pendidikan. Jadi landasan ilmiah ini berfungsi sebagai titik tolak dari materi-materi pelajaran yang diusung oleh suatu sekolah.
c)      Landasan religi pendidikan
Landasan religi pendidikan, adalah seperangkat asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah agama/religi yang dijadikan landasan teori maupun praktek pendidikan, seperti halnya landasan ilmiah pendidikan, landasan religi juga diadikan titik tolak dalam penyampaian materi pelajaran yang dispesifikasikan lagI dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, sehingga keduanya ( landasan religi dan landasan  ilmiah pendidikan) mempengaruhi  pemilihan materi dalam proses pembelajaran.

d)     Landasan yuridis pendidikan
Landasan yuridis pendidikan adalah memberikan rambu-rambu tentang bagaimana pelaksanaan system pendidikan dan managemen pendidikan dilaksanakan selaras dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Disini dapat disimpulkan karena individu-individu  suatu Negara harus sama dalam hal penguasaan materi, maka disini adanya sebuah institusi yang menyamakan proses dan fungsi pendidikan, sehingga jelas bahwa fungsi dari landasan yuridis adalah  pembuat model kurikulum.
e)      Landasan psikologis pendidikan
Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam membantu proses tumbuh kembang itu secara efektif dan efisien.
f)       Landasan social-kultural
Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan/ dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baiksecara formal maupun informal.


4. Menurut Brubacher sistem filsafat pendidikan diklasifikasikan menjadi 6 mazhab, yaitu:
(1) pragmatisme, (2) naturalisme, (3) idealisme, (4) realisme naturalistik, (5)humanisme rasional, dan (6) supernaturalisme katolik. (1950, 297). Kedua, berpandangan bahwa filsafat pendidikan berakar dari konsep tentang suatu kenyataan akhir yang ideal, atau suatu kenyataan yang berada diluar atau melampaui pengalaman sehari-hari. Ada tiga mazhab yang termasuk dalam kelompok inio, yaitu: (1) realisme, (2) idealisme, dan (3) scholastisisme.  realisme, berpendapat bahwa kenyataan yang sebenarnya atau ideal adalah dunia obyektif, suatu dunia yang bebas dari setiap dan seluruh pengalaman manusia. Pada umumnya penganut mazhab realisme sependapat
bahwa filsafat pendidikan yang ideal dan benar adalah yang diturunkan atau dijabarkan dari struktur dunia obyektif. Oleh karena itu, tingkah laku dan pengetahuan yang benar itu didasarkan pada kenyataan yang obyektif, sehingga tujuan utama pendidikan adalah memahami kenyataan obyektif tersebut. Pengetahuan tentang bentuk-bentuk kenyataan obyektif menjadi isi pendidikan. Seperti : logika, gramatika, dan matematika harus diajarkan baik sebagai alat komunikasi maupun sebagai alat untuk menghayati kenyataan obyektif.
Idealisme, berpandangan bahwa kenyataan akhir atau kenyataan yang sebenarnya adalah spiritual/rokhaniah atau cita. Tujuan pendidikan adalah mengembangkan individu sebagai pribadi yang terbatas, dan ia mampu berbuat selaras dengan suatu kehidupan yang mulia. Tujuan ini dapat dicapai dengan cara mengekspresikan dirinya secara positif, dengan mempergunakan metode dialektis untuk mengembangkan kemampuan menilai dan menalar, yang bisa dicapai melalui pengajaran.
Scholastisisme, berpandangan bahwa kenyataan sebenarnya terdiri atas kenyataan fisik dan material serta kenyataan rohaniah dan cita yang lebih tinggi daripada kenyataan fisik dan material. Tujuan pendidikan adalah membantu individu mencapai tingkat tertinggi sebagai manusia, yaitu manusia yang berkembang penuh akal pikirannya, dan yang tunduk patuh kepada hukum Tuhan. Tujuan ini dapat dicapai melalui latihan berpikir dan latihan moral. Selain dari tiga mazhab tersebut, masih ada 5 aliran filsafat yang berpengaruh terhadap filsafat pendidikan, yaitu pragmatisme, humanisme, naturalisme romantik, eksistensialisme, dan neo positivisme.
Pragmatisme, berpandangan bahwa pengetahuan dan perbuatan bersatu tak terpisahkan, dan semua pengetahuan bersumber dari dan diuji kebenarannya melalui pengalaman. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan, dan kondisi optimum atau tertinggi dari pertumbuhan adalah kebebasan mengadakan penelitian bersama dengan urun pemikiran yang tidak terkekang dalam suatu sistem kerja sama yang terbuka. Metode pemecahan masalah yang telah dikembangkan dalam ilmu sebagai pendekatan ilmiah, juga merupakan metode belajar dalam pendidikan.
Humanisme rasional, pada umumnya berpandangan bahwa faktor yang paling penting dalam alam semesta adalah manusia dan kemanusiaan, dan rasionalitas manusia merupakan hal yang terpenting pada manusia dan kemanusiaan. Pendidikan hendaknya bertujuan mengembangkan kecerdasan, dengan melalui latihan berpikir dan mengenali tata hukum ilmu melalui ensiklopedia atau buku besar tentang ilmu yang telah dicapai dalam kebudayaan kita.
Naturalisme romantik berpandangan bahwa kenyataan dari alam adalah baik, mernjadi rusak karena tangan atau ulah manusia. Pendidikan adalah pendidikan alami dengan tujuan mengembangkan kemampuan-kemampuan yang telah diberikan oleh alam, yang pada dasarnya baik.
Eksistensialisme, berpandangan bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah bahwa manusia hidup di dunia tanpa tujuan, dan kehidupan ini pada dasarnya suatu teka-teki. Kemudian manusia mencoba mencari makna hidup di dunia, dengan jalan mewujudkan dirinya sebagai manusia. Oleh karena itu, tujuan utama pendidikan adalah membantu individu untuk mampu mewujudkan dirinya sebagai manusia. Metode pendidikannya dengan metode penghayatan (non directive atau absortive learning), dan metode dialog atau percakapan langsung.
Neo-Positivisme berpandangan bahwa kenyataan yang sebenarnya merupakan kerangka kerja yang berada dalam ruang, waktu, dan berlangsung hubungan sebab akibat (spatio – temporal – causal network). Pendidikan bertujuan mendorong perkembangan intelektual dan sosial individu. Pendidikan vmelalui pengalaman langsung, dan belajar menggunakan prosedur kerja ilmiah. Berdasarkan klasifikasi sikap dan orientasi pendidikan serta peranan pendidikan terhadap perubahan social, baik Brubacher maupun B.O Smith, mengklasifikasikan sistem-sistem filsafat pendidikan menjadi 4 aliran, yaitu (1) progresivisme (2) essensialisme, (3) perenialisme, (4) rekonstruksionisme.
Progresivisme, memandang sekolah sebagai alat untuk mempertahankan tradisi dan lembaga kehidupan dalam garis kemajuan ilmu dan teknologi. Oleh karena itu, tugas sekolah menghasilkan dan mempertahankan suatu tingkat integrasi sosial yang tinggi di antara berbagai aspek kehidupan masyarakat sekolah yang mengutamakan studi masalah-masalah sosial dengan mempergunakan metode pemecahan masalah yang sesuai dengan metode penelitian ilmiah.
Esensialisme, berpendapat bahwa sekolah berfungsi sebagai alat untuk memelihara warisan budaya. Sumbangan sekolah bagi perbaikan social tergantung pada keberhasilan mewariskan budaya. Sedangkan perenialisme berpendapat bahwa sekolah berfungsi sebagai suatu alat untuk memelihara dan memperbaiki masyarakat. Tetapi tradisi saja tidak cukup, sehingga diperlukan kestabilan yang ditopang oleh agama atau ajaran metafisika. Berbeda dengan ketiga aliran tersebut di atas, rekonstruksionalisme lebih mengutamakan pada pencapaian tujuan pendidikan. Tujuan sosial dalam rangka pembangunan masyarakat sekolah, tidak cukup hanya mengembangkan kemampuankemampuan memecahkan masalah-masalah sosial saja, tetapi lebih dari itu hendaknya mengembangkan kemampuan-kemampuan untuk melakukan pembangunan masyarakat. Sekarang bagaimana pendekatan filsafi terhadap pendidikan, sehingga menghasilkan konsep-konsep yang dapat digunakan dalam rangka memperbaiki dan mengkritisi masalah-masalah pendidikan secara empiric.

5. cara mengimplementasikan pandangan filsafat dalam praktek pendidikan adalah dengan menjadikan filsafat pendidikan sebagai dasar dan acuan dalam praktek pendidikan di sekolah. Misalnya pandangan filsafat eksistensialisme terhadap proses pembelajaran


 Implikasi Edukatif dari Filsafat Eksistensialisme
Murid

Makhluk rasional dengan kebebasan untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya, sesuai dengan pemenuhan tujuan personal
Tujuan Pendidikan
Menyediakan pengalaman yang luas dan komprehensif dengan segala bentuk kehidupan.
Kurikulum
Mengutamakan kebebasan karena “liberal learning”sangat mungkin melandasi “human freedom”. Pendidikan Sosial Kebebasan memiliki aturan, ini adalah urusanpendidikan sosial untuk mengajarkan penghargaan kepada kebebasan yang dimiliki semua orang, agar kebebasan tidak mengundang konflik
Peranan Guru
Melindungi dan menjaga kebebasan akademis, dimana guru hari ini dapat menjadi siswa esok hari,
Metode
Tidak ada perhatian khusus mengenai metode, tetapiapapun metode yang digunakan harus terarah kepada cara pencapaian kebahagiaan dan karakter yang baik.

.
6. Praktek  pendidikan di Sekolah Dasar  sekarang ini  belum sesuai dengan filsafat pendidikan pancasila, Hal ini dikarenakan pendidikan di Indonesia cenderung besifat sekuler, ini tidak sesuai dengan tujuan pendidikan filsafat pancasila yaitu menjadikan manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, hal ini dapat dilihat dari minimnya alokasi waktu untuk pendidikan Agama Islam yang hanya 2 jam per minggu, selain itu  filsafat pendidikan pancasila menggunakan metode pembelajaran berupa multimetode, hanya saja dalam fakta pendidikan di Indonesia dewasa ini, metode yang digunakan cenderung hanya metode dialektik, meskipun kurikulm pendidikan sering diganti, tapi praktek pendidikan cenderung kehilangan makna yang sebenarnya. Kebanyakan tenaga pendidik, khsusnya di lingkungan SD, Nampak tidak paham akan isi dari filsafat pendidikan pancasila, bahkan tidak dapat dipungkiri masih banyak pendidik di Indonesia yang tidak tahu landasan filosofis pendidikan  Indonesia./

Tidak ada komentar:

Posting Komentar