MAKALAH
MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Pengelolaan Pendidikan
Disusun oleh:
Ahmadi Hasbie Asmariana (0902933)
Elis Juniarti Rahayu (0904029)
Hira Sopiyani Rahayu (0902820)
Syarifah Ambami (0902972)
Dosen Pengampu:
Drs. Abu Bakar, M. Pd
Prof. H. Udin Syaefudin Sa’ud, Ph. D.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN PEDAGOGIK
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dilakukan dalam 3 jalur, yaitu pendidikan formal, pendidikan non-formal, dan pendidikan informal. Hal ini sebagaimana disuratkan dalam undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1 ayat 10, 11, 12, dan 13: “(10) Satuan pendididkan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelanggarakan pendidikan pda jalur formal, non-formal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. (11) pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang berstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. (12) pendidikan non formal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. (13) pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan”.
Penyelenggaraan pendididkan yang dilakukan secara terstruktur (dalam arti memiliki kurikulum dan sistem pengelolaan yang sistematis) adalah pendididkan yang diselenggarakan pada jalur formal dan non-formal. Jalur formal ini sering disebut sebagai pendidikan persekolahan
Sumbangan pendidikan terhadap pembangunan bangsa tentu bukan hanya sekedar penyelenggaraan pendidikan, tapi pendidikan yang bermutu, baik dari sisi input, proses, output maupun outcome. Input pendidikan yang bermutu adalah guru-guru yang bermutu, peserta didik yang bermutu, kurikulum yang bermutu, fasilitas yang bermutu dan berbaagai aspek penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Proses pendididkan yang bermutu adalah proses pembelajaraan yaang bermutu. Output pendidikan yang bermutu adalah lulusan yang memiliki kompetensi yang disyaratkan.dan outcome pendidikaan yang bermutu adalah lulusan yang mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi atau terserap pada dunia usaha atau dunia industri.
Namun, pada kenyataannya dunia pendidikan di indonesia terutama pada jenjang sekolah dasar belum memiliki kualitas mutu yang mampu menghasilkan lulusan-lusan yang berkualitas. Bahkan banyak anak yang tidak dapat melanjutkan sekolah dan terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Banyak juga sekolah dasar yang berdiri, namun mutunya belum terjamin. Untuk mendapatkan pelayanan dan mutu terbaik dari sebuah sekolah, Biaya merupakan salah satu faktor pendukung dalam mempertahankan dan meningkatkan mutu sebuah sekolah.
B. Rumusan Masalah
a. Apa itu Mutu?
b. Bagaimana sejarah mutu itu bermula?
c. Definisi manajemen mutu dalam pendidikan?
d. Bagaimana cara mencapai mutu yang di kehendaki?
e. Bagian-bagian apa saja yang menjadi prasyarat dimilikinya mutu?
f. Bagaimana implementasi mutu dalam persekolahan?
C. Tujuan Penulisan
a. Mengetahui definisi mutu
b. Mengetahui darimana asalnya kata mutu diperoleh
c. Dapat mendefinisikan manajemen mutu yang dikehendaki
d. Mengetahui cara untuk mencapai mutu yang dikehendaki
e. Mengetahui bagian-bagian yang menjadi prasyarat dimilikinya mutu
f. Mengetahui Implementasi mutu dalm persekolahan
D. Ruang Lingkup (Fokus Pembahasan)
Makalah ini membahas mengenai manajemen pengembangan mutu pendidikan yang ruang lingkupnya berkaitan dengan upaya satuan pendidikan dalam meningkatkan kualitas hasil lulusannya. Komponen-komponen itu terdiri dari: kepemimpinan, pendidikan dan latihan, struktur pendukung, komunikasi, ganjaran dan pengakuan serta pengukuran.
BAB II
KAJIAN TEORI
a. Sejarah Mutu
Konsep Manajemen mutu pendidikan merupakan sebuah konsep yang berasal dari Total Quality Management (TQM). TQM pertama kali diperkenalkan pada tahun 1920an oleh edward Deming di Jepang. Deming adalah seorang warga Amerika yang menjadi salah satu konsultan perusahaan di Jepang. Konsep TQM pada awalnya berkembang dari pemikiran untuk mewujudkan produk yang bermutu sampai pada akhirnya meliputi semua aspek dalam organisasi.
Perkembangan upaya mewujudkan mutu dapat ditelusuri dari
konsep “ Inspection” meliputi pengukuran, pengujian, dan test produk, proses dan pelayanan dalam membuat produk yang sama. Pada awalnya inspeksi muncul untuk menentukan apakah pekerja dan hasil kerjaannya sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh pabrik/industry atau tidak. Hal ini dianggap berjalan baik pada kondisi para pekerja yang rendah produktivitasnya dan perusahaan relative kecil. Artinya semua pegawai akan terawasi dengan baik dan seksama. Namun seiring perkembangan dunia industri dalam memproduksi barang dalam jumlah yang banyak, inspeksi tidak lagi menjadi efektif dalam mewujudkan suatu produk yang bermutu. Inspeksi saat ini tidak lagi menjadi jawaban untuk semua masalah mutu suatu produk, akan tetapi menjadi salah satu alat untuk meningkatkan mutu suatu produk.
Kemudian berkembang...
“quality control and statistical theory” pertama kali diperkenalkan untuk mendeteksi dan memperbaiki masalah-masalah selama proses produksi untuk mencegah adanya kegagalan suatu produk.
Selanjutnya berkembang “quality in Japan” yang menghantarkan pada konsep “total quality”. Jepang mengundang Deming, Juran dan Feigenbaum untuk mempelajari bagaimana mencapai maksud untuk menghasilkan produk inovatif yang berkualitas. Deming mengungkapkan bahwa mereka (para industriawan Jepang) akan mencapai tujuan mereka dalam lima tahun, tidak banyak orang Jepang mempercayainya. Namun demikian, mereka mengikuti apa yang di sarankan. Lalu quality circles dimulai pada tahun 1960an. Lingkaran mutu adalah sebuah kelompok pekerja volunteer yang bertemu dan mendiskusikan isu-isu berbagai aspek di tempat kerja dan mereka membuat presentasi kepada manajemen berdasarkan ide-ide mereka. Sebuah hasil dari quality circles adalah motivasi pegawai dan peningkatan mutu dari semua aspek organisasi. Hal ini barangkali sebagai awal dari ide total quality
Total Quality adalah sebuah istilah yang pertama kali dimunculkan oleh Feigenbaum (Dr. Armand Val Feigenbaum) pada konferensi internasional pertama mengenai quality control di jepang pada tahun 1969. Meenurut ishikawa kontrol mutu perusahaan secara luas melibatkan semua pegawai dari jajaaraan top manajemen sampai pekerja
Perkembangan selaanjutnya adalah Total Quality Management yang berkembang pada tahun 1980an-1990 an. Definisi TQM secara spesifik meliputi: Focus pelanggan, keterlibatan semua pegawai, perbaikan secara terus menerus dan integrasi manajemen mutu ke dalam organisasi. Kemudian berkembang menjadi “quality awards and excellence Models” merupakan satu langkah maju dalam manajemen mutu yang dikembangkan pada tahun 1988 oleh Malcolm Baldrige Award di Amerika Serikat. Model tersebut dikenal secara internasional sebagai model TQM. Model itu dibuat untuk mendukung perusahaan-perusahaan mengadopsi model tersebut dan meningkatkan organisasi kompetitifnya maka dibuat oleh Organisasi Manajemen Mutu Eropa pada tahun 1992 yang dikenal dengan EFQM (European Foundation of Quality Management).
Perkembangan selanjutnya adalah “business excellence” merupakan sebuah nama untuk membedakan TQM saat ini dengan TQM masa lalu. Model ini pertama kali di buat pada pertengahan tahun 1980an sebagai reaksi terhadap perkembangan mutu di di Barat yang juga lahir karena perkembangan mutu di jepang. Model ini awalnya sebagai “quality award” atau TQM models. Dari waktu ke waktu, istilah “business excellence” mulai menggantikan istilah “quality” dan TQM. Saat ini banyak negara memandang model “ business excellence” sebagai mekanisme kunci untuk meningkatkan kinerja organisasi
b. Definisi mutu
Pengertian mutu memiliki variasi sebagaimana didefinisikan oleh masing-masing oarang atau pihak. Satu kata yang menjadi benang merah dalam konsep mutu baik menurut konsumen maupun produsen adalah kepuasan. Barang atau jasa yang dikatakan bermutu adalah yang dapat memberikan kepuasan baik bagi pelanggan maupun produsennya.
Deming menulis buku yang paling penting yang berjudul out of the crisis. Buku tersebut menjelaskan tentang transformasi gaya manajemen amerika. Deming menkonsentrasikan penjelasannya pada kesalahan atau kegagalan manajemen untuk dijadikan dasar perencanaan dimasa yang akan datang dan untuk hakikatnya terletak pada konsep manajemen, khususnya kegagalan senior manajer dalam proses perencanaan.
Joseph Juran merupakan salah satu pakar mutu yang mendapatkan penghargaan yang dinilai prestisius dari kaisar jepang, yaitu order of sacred treasure. Sebagai pakar dibidang mutu, Juran memiliki ide penting mengenai mutu, yaitu produk atau jasa yang bermutu adalah produk atau jasa yang bisa menemukan spesifikasi yang diinginkan oleh pelanggan. Untuk mewujudkan ide itu, juran mengemukakan 2 hal, yaitu :
1. Hukum 85/I5
Hukum 85/I5 yang dikemukakan juran mengungkapkan bahwa 85 % masalah mutu yang dihadapi organisasi disebabkan karena buruknya desain proses. Desain proses merupakan proses manajemen yang dilakukan untuk mengelola organisasi.
2. Strategi Manajemen Mutu (strategic quality management)
SQM merupakan tiga bagian proses berdasarkan perbedaan tingkat staf. Perbedaan tingkat staff ini dinilai memberikan konstribusi yang unik bagi peningkatan mutu.
Mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan oleh pelanggan. Salis (1993) mendefinisikan mutu dalam 2 presfektif, yaitu mutu absolut dan mutu relatif. Mutu absolut merupakan mutu dalam arti yang tidak bisa ditawar-tawar lagi atau bersifat mutlak. Sedangkan mutu relatif dapat diartikan sebagai mutu yang ditetapkan oleh selera konsumen.
Penulis memandang mutu sebagai kondisi yang terkait dengan kepuasan pelanggan terhadapa barang atau jasa yang diberikan oleh produsen. Lebih luas dari itu, konsep mutu juga ditetapkan oleh produsen sebagai pembuat atau pemberi jasa yang didasarkan pada spesifikasi yang telah ditentukan oleh produsen.
c. Definisi Manajemen Mutu Terpadu
Manajemen mutu terpadu merupakan sebuah konsep yang mengaplkasikan berbagai prinsip mutu untuk menjamin suatu produk/jasa memiliki spesifikasi mutu sebagimana ditetapkan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Pendekatan manajemen mutu dlakukan secara menyeluruh, yaitu mulai dari input, proses, output dan outcome. Beberapa isu yang dibuat oleh konferensi dewan mutu pada mei 1990 (ross,1993:1-2) adalah sebagai berikut:
1. Suatu perubahan budaya didasarkan pada filosof manajemen sesuai dengan tuntutan pelanggan melaui perbaikan berkelanjutan.
2. Perilaku manajemen juga harus berperan sebagai model, menggunakan alat dan proses mutu, mendorong komunikasi, mensponsori umpan balik dan mendukung lingkungan.
3. Mekenisme perubahan meliputi: pelatihan, komunikasi perubahan, pengenalan, kerjasama kelompok,dan program pemuasan pelanggan.
4. Pengimplementasian TQM dengan mendefinisikan misi, mengidentifikasi system output, bernegosiasi dengan tuntutan pelanggan, mengembangkan spesifikasi bagi supplier sebgaimana diharapkandan dituntut pelanggan, dan menentukan syarat-syarat yang perlu untuk mengisi harapan dan tuntutan pelanggan tersebut.
5. Biaya mutu sebagai ukuran yang bukan mutu atau tidak memenuhiyang disyaratkan pelanggan.
d. Prinsip Mutu
Menurut deming ada 14 prinsip mutu yang harus dilakukanorgansasi jika menghendaki dicapanya mutu, yaitu:
1. Menciptakan kosistensi tujuan untuk pengembangan produk dan jasa dengan adanya tujuan siasana bisnisyang kompetitf.
2. Adopsi filosofi baru
3. Menghentikan ketrgantungan pada adantya inspeksi dandigantikandengan upaya pencapaan mutu.
4. Menghentikan anggapanbahwa penghargaandalam bisnis adalah terletek pada harga.
5. Peningkatan system prodiksi dan layanan secara terus menerus guna penngkatan mutu dan produktivitas.
6. Pelatihan dalam pekerjaan.
7. Kepemimpinan lembaga
8. Menghilangkan rasa takut
9. Hilangkan penghalang antar departemen
10. Mengurangi slogan peringatan-peringatan dan target, dan menggant dengan pemantapan metode-metode yang dapat meningkatkan mutu kerja
11. Kurangi standar kerja yang menentukan kuota berdasarkan jumlah.
12. Hilangkan penghambat yang dapat merampas hak asasi manusia untuk merasa bangga terhadap kecakapan kerjanya.
13. Lembagakan suatu program pendidkandan peningkatan diri yang penuh semangat
14. Setiap orang dalam perusahaan bekerjasama dalam mendukung proses tranformasi.
Menurut Joseph Juan (ross,1993:3) ada 10 langkah untuk meningkatkan mutu, yatu:
1. Membengun kepedulian untuk perbakan)peningkatan.
2. Menentukan tujuan-tujuan untuk peningkatan
3. Mengorganisasikan untuk pencapaian tujuan
4. Menyelenggarakan pelatihan
5. Mendorong pembangunan pemecaha masalah
6. Melaporkan perkembangan
7. Memberikan pengakuan
8. Mengkomunikasikan hasil-hasil
9. Keep score
10. Menjaga momentum dengan membuat peningkatan tahunan sebagi bagian dari system dan proses regular perusahaan
Menurut Philip Crosby (ross, 1993:3), ada 4 prinsip mutu, yaitu:
1. Mutu didefinisikan sebagai kesesuaian dengan tuntutan, bukan kebaikan
2. System untuk mencapai mutu adalah pencegahan terhadap mutu yang rendah melalui proses pengawasan, bukan penilaian atau koreksi
3. Standar perporma adalah tidak ada kesalahan, bukan hal iyu hamper mendekati
4. Pengukuran mutu adalah harga dari ketidak seragaman, bukan indeks-indeks,
Prinsip mutu adalah sejumlah asumsi yang dinilai dan diyakini memiliki kekuatan untuk mewujudkan mutu. Berdasarkan versi ISO ada delapan prinsip mutu yaitu:
Penerapan khusus Prinsip 1 (orientasi pelanggan) adalah:
a) teliti, pahami kebutuhan dan harapan pelanggan
b) pastikan bahwa sasaran organisasi sejalan dengan kebutuhan dan harapan pelanggan
c) komunikasikan kebutuhan dan harapan pelanggan ke seluruh organisasi
d) ukur kepuasan pelanggan lalu ambil tindakan dari hasil pengukuran
e) kelola secara sistematis hubungan dengan pelangggan, dan
f) buatlah keseimbangan pendekatan antara kepuasan pelangggan dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya, seperti: pemilik modal, karyawan, pemasok, masyarakat dan pemerintah.
Penerapan khusus Prinsip 2(prinsip kepemimpimpinan) ini adalah:
a) Pertimbangan kebutuhan semua pihak yang berkepentingan, termasuk pelanggan
b) Tetapkan dan jelaskan visi organisasi ke depan agar setiap orang mengerti tujuan
c) Tentukan sasaran dan target yang menantang dan sosialisasikan
d) Ciptakan dan sokong nilai-nilai kebersamaan, kejujuran dan model tugas yang etis pada semua level organnisasi
e) Lengkapi semua orang dengan sumber daya yang diperlukan
f) Beri semangat kebesaran hati dan pengakuan terhadap kontribusi setiap orang.
Penerapan khusus Prinsip 3 (keterlibatan orang-orang) adalah;
a) Upayakan setiap orang memahami pentingnya kontribusi dan peran mereka dalam organisasi
b) Upayakan setiap orang mengenali batasan kinerja serta lingkup tanggung jawab mereka dalam organisasi
c) Upayakan setiap orang mengetahui permasalahan kerja mereka dan termotivasi untuk menyelesaikannya
d) Ajak setiap orang aktif melihat peluang untuk meningkatkan kompetensi, pengetahuan dan pengalaman mereka
e) Fasilitasi agar setiap orang bebas berbagi pengetahuan/pengalaman dan berinovasi
f) Budayakan agar setiap orang secara terbuka mendiskusikan permasalahan.
Penerapan khusus Prinsip 4 (pendekatan proses) adalah:
a) Secara sistematis menentukan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan untuk mencapai hasil yang diinginkan
b) Menganalisa dan mengukur kapabilitas aktibitas-aktivitas kunci
c) Mengidentifikasi interface aktivitas-aktivitas kunci di dalam dan diantara fungsi-fungsi organisasi
d) Upayakan agar proses lebih singkat dan efektif, tidak berbelit-belit
e) Menekankan pada factor-fakltor seperti sumber daya, metode, dan material untuk memperbaiki aktivitas kunci pada organisasi
f) Hilangkan birokrasi
g) Mengevaluasi resiko,konsekwensi dan dampak aktivitas pada pelanggan/pemasok ataupun pihak-pihak yang berkepentingan lainnya.
Penerapan khusus Prinsip 5 (menggunakan pendekatan system pada manajemen) adalah:
a. Penyusunan system untuk mencapai sasaran organisasi dengan lebih efektif dan efisien;
b. Memahami keadaan saling ketergantungan diantara proses-proses pada sistem;
c. Pendekatan struktru yang harmonis dan integrasi proses-proses, dengan tugas yang tidak saling tumpang tindih;
d. Memberi pemahaman terbaik pada tugas-tugas/ tanggungjawab yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan bersama, serta mengurangi hambatan lintas fungsional; dan
e. Menargetkan dan menentukan bagaimana aktivitas khusus dalam suatu sistem akan beroperasi.
Penerapan khusus Prinsip 6 (perbaikan secara berkelanjutan) adalah:
a. Laksanakan secara konsisten pendekatan organisasi untuk kontinuitas (kelangsungan) perbaikan performansi;
b. Sediakan dan kirim SDM untuk pelatihan terhadap metode dan alat perbaikan berkesinambungan;
c. Laksanakan perbaikan yang kontinu pada produk, proses dan sasaran sistem,
d. Tetapkan tujuan dan sasaran sebagai pedoman, ukur pencapaian untuk perbaikan yang berkesinambungan; dan
e. Beri penghargaan dan pengakuan terhadap perbaikan.
Penerapan ksusus Prinsip 7 (pendekatan actual dalam pembuatan keputusan) adalah:
a. Pastikan bahwa data dan informasi cukup akurat dan dapat dipercaya;
b. Sediakan data yang dapat diakses oleh yang membutuhkan;
c. Analisa data dan informasi dengan menggunakan metode yang valid; dan
d. Buat keputusan dan ambil tindakan berdasarkan analisis factual, seimbang dengan pengalaman intuisi.
Penerapan khusus Prinsip 8 (hubungan yang saling menguntungkan dengan supplier) adalah:
1. Tetapkan hubungan yang seimbang antara keuntungan jangka pendek dengan mempertimbangkan jangka panjang;
2. Sinergikan keahlian dan sumberdaya secara berpasangan dengan pemasok;
3. Identifikasi dan pilih pemasok-pemasok kunci;
4. Susun pengembangan bersama, untuk fleksibilitas dan kecepatan merespon perubahan kebutuhan pasar; dan
5. Berikan semangat, dorongan dan penghargaan atas peningkatan dan prestasi pemasok.
e. Komponen Mutu
a. Kepemimpinan yang berorientasi pada mutu
Pimpinan suatu organisasi harus sepenuhnya menghayati implikasi manajemen dan semua perilakunya terhadap produktivitas organisasi, gahan terhadap respon pesaing. Kenyataan ini harus menyadarkan manajer puncak untuk mengakui bahwa mereka harus mengembangkan manajemen secara partisipatif, baik visi dan misi mereka maupun proses manajemen yang dapat mereka pergunakan untuk mencapai keduanya.
b. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)
Dinamisasi tuntutan mengharuskan diupgradenya kemampuan pegawai secara terus menerus. Bahkan investasi terbesar haruslah pada SDM organisasi. Diklat terkait dengan keterampilan pokok dan keterampilan pendukung kedua-duanya menjadi utama dalam membentuk pegawai yang kompeten.
c. Struktur Pendukung
Manajer puncak akan memerlukan dukungan untuk melakukan perubahan yang dianggap perlu dalam melaksanakan strategi pencapaian mutu. Dukungan semacam ini mungkin diperoleh dari luar melalui konsultan ayau tim mutu, akan tetapi lebih baik kalau diperoleh dari dalam organisasi itu sendiri.
d. Komunikasi
Komunikasi dalam suatu organisasi yang berorientasi mutu perlu ditempuh dengan cara yang bervariasi agar pesan yang dikomunikasikan tersampaikan secara efektif dan manajer puncak dapat berkomunikasi kepada seluruh pegawai mengenai suatu komitmen yang sungguh-sungguh untuk melakukan perubahan dalam usaha peningkatan mutu.
e. Ganjaran dan Pengakuan
Tim dan/atau individu-individu yang berhasil menerapkan prinsip-prinsip mutu dalam proses mutu harus diakui dan diberi ganjaran sebagaimana kemampuan organisasi, sehingga pegawai lainnya sebagai anggota organisasi akan mengetahui apa yang diharapkan.
f. Pengukuran
Penggunaan data hasil pengukuran (evaluasi) menjadi sangat penting di dalam menetapkan proses manajemen mutu. Hasil pengukuran merupakan informasi umpan balik bagi manajer puncak mengenai kondisi riil bagaimanan gambaran proses mutu yang ada dalam organisasi. Bahkan hasil evaluasi ini harus menjadi dasar untuk mengambil keputusan bagi manajer puncak.
Pengumpulan data dari pelanggan juga menjadi penilaian kinerja yang realistis serta sangat berguna di dalam memotivasi setiap orang untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya. Di samping keenam komponen di atas, ada 13 hal yang perlu dimiliki oleh seorang pimpinan dalam TQM, yaitu:
1) Pembuatan keputusan bagi pimpinan didasarkan pada data, bukan hanya pendapat saja.
2) Pimpinan berperan sebagai pelatih dan fasilitator bagi setiap anggota organisasi.
3) Pimpinan terlibat secara aktif dalam pemecahan masalah yang dihadapi oleh bawahan melalui berbagai pendekatan
4) Pimpinan harus berupaya membangun dan memelihara kepercayaan anggotanya untuk berkomitmen terhadap pembangunan mutu organasasi.
5) Pimpinan harus berupaya membangun dan memelihara kepercayaannya untuk berkomitmen terhadap pembangunan mutu organisasi.
6) Pimpinan harus paham betul bagaimana mengapresiasi terima kasih kepada anggota organisasi yang berhasil/berjasa.
7) Secara aktif mengadakan kaderisasi melalui pendidikan dan pelatihan yang terprogram
8) Perilaku dalam organisasi diorientasikan pada pelanggan internal/eksternal
9) Memiliki keterampilan dalam menilai situasi dan kemampuan orang lain secara tepat
10) Memiliki kemampuan untuk menciptakan suasana kerja yang sangat menyenangkan
11) Mau mendengar dan menyadari berbagai kekurangan dan kesalahan anggota organisasi
12) Selalu berusaha memperbaiki sistem dan banyak berimprovisasi secara terus menerus
13) Bersedia belajar kapan saja dan dimana saja secara terus menerus.
f. Implementasi Manajemen Mutu melalui Konsep MPMBS
MPMBS adalah sebuah singkatan dari “Manajemen Peningkatan Mutu berbasis Sekolah” , Yaitu sebagai model disentralisasi dalam bidang pendidikan, khususnya untuk pendidikan dasar dan menengah diyakini sebagai model yang akan mempermudah pencapaian tujuan pendidikan. Dalam konteks penyelenggaraan persekolahan saat ini konsep MPMBS dijadikan sebagai suatu kebijakan untuk meningkatkan suatu kebijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Umaedi (1999:2-3) mengungkapkan bahwa ada dua hal yang menjadi landasan mengapa peningkatan mutu pendidikan di indonesia harus dilakukan dengan menggunakan pendekatan MPMBS yaitu:
“Pertama strategi pembangunan pendidikan selama ini bersifat input oriented. Strategi demikian lebih berstandar asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah terpenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya. Maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagaimana yang diharapkan. Ternyata strategi output-input yang diperkenalkan dengan teori “education production function” (Hanushek, 1979,1981) tidak berfungsi sepenuhnya dilembaga pendidikan (sekolah), melainkan hanya terjadi dalam insitusi ekonomi dan industtri. Kedua pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah). Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa komleksitasnya cakupan permasalahan pendidikan, seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat”.
Lebih lanjut, umaedi (1999) mengungkapkan bahwa konsep MPMBS adalah konsep yang menawarkan kerja sama yang erat antara tiga pihak yang terkait dengan penyelenggaraan persekolahan, yaitu sekolah, masyarakat dan pemerintah dengan tanggung jawabnya masing-masing. MPMBS ini berkembang didasarkan kepada sesuatu keinginan pemberian kemandirian kepada sekolah untuk ikut terlibat secara aktif dan dinamis dalam rangka proses peningkatan kualitas pendidikan melalui pengelolaan sumber daya sekolah yang ada.
Apabila di telusuri secara historis, MPMBS ini berasal dari pengembangan konsep effective school yang intinya adalah untuk melakukan perbaikan proses pendidikan (PBM) di sekolah. Orientasi manajemen dalam MPMBS dapat di telusuri dalam indikator ; (i) lingkungan sekolah yang aman dan tertib, (ii) sekolah meiliki misi dan target mitu yang ingin dicapai, (iii) sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat, (iv) adanya harapan yang adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah (kepala sekolah, guru, dan staf lainya termasuk siswa) untuk berprestasi, (v) adanya pengembangan staf sekolah yangyang terus menerus sesuai tuntunan IPTEK, (vi) adanya pelaksa terus menerus sesuai tuntunan IPTEK, (vi) adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administratif , dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/perbaikan mutu, dan (vii) adanya komonikasi dan sukungan intensif dari orang tua murid/masyarakat.(Umaedi, 1999:5).
Sedangkan kata mutu dalam MPMBS ini memiliki makna mutu proses dan mutu hasil. “Proses pendidikan” yang bermutu melibatkan input, seperti ; bahan ajar, metodologi, sarana sekolah, dukungan adminitrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Mutu “hasil pendidikan” mengacau pada prestasi yang di capai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu. Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan dapat brupa prestasi akademik maupun non-akademik. Bahan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seprti sarana disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan dan sebagainya.
Kerangka kerja MPMBS sebagimana dikemukakan umaedi (1999 : 7-9) meliputi:
Sumber daya ;sekolah harus memiliki fleksibilitas dalam mengatur dalam semua sumber daya sesuai kebutuhan setempat. Selain pembiayaan operasional/administrasi, pengelolaan keuangan harus ditunjukan untuk : (i) memperkuat sekolah dalam menentukan dan mengalokasikan dana sesuai dengan skala prioritas yang telah di tetepkan untuk proses peningkatan mutu, (ii) pemisahan antara biaya yang bersifat akademis dari peroses pengadaannya, dan (iii) pengurangan kebutuhan birokrasi pusat.
Pertanggung jawaban (accountability) ; sekolah dituntut untuk memiliki akountabilitas baik kepada masyarakat maupun pemerintah. Hal ini merupakan antara komitmen terhadap standar keberhasilan dan harapan atau tuntutan orang tua atau masyarakat.Pertanggung jawaban (accountability) ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa dana masyarakat dipergunakan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualias pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang sudah dikerjakan.untuk itu setiap sekolah harus memberikan laporan pertanggung jawaban dan melaksanakan kaji uang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam peroseas peningkatan mutu.
Kurikulum; berdasarkan kurikulum standar yang telah ditentukan secara nasional, sekolah bertanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum baik dari standar materi (content) dan proses penyampaiannya. Melalui penjelasan bahwa materi tersebut ada manfaat dan relevasinya terhadap siswa, sekolah harus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan melibatkan semua indra dan lasemua indra dan lasemua indra dan lapisan otak serta menciptakan tantangan agar siswa tumbuh dan berkembang secara intelektual dengan menguasai ilmu pengetahuan , trampil, memiliki sikap arif an bijaksana, karakter dan memiliki kematangan emosional. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini yaitu;
1) Pengembangan kurikulum tersebut harus memenuhi kebutuhan siswa.
2) Bagaimana mengembangkan keterampilan pengelolaan untuk menyajikan kurikulum tersebut kekurikulum tersebut kepada siswa sedapat mungkin secara efektif dan efisien dengan memperhatikan sumberdaya yang ada.
3) Pengembangan berbagai pendekatan yang mampu mengatur perubahan sebagai penomena alamiah dan sekolah.
Untuk melihat progres pencapaian kurikulum, siswa harus di nilai melalui proses test yang dibuat sesuai dengan standar nasional dan mencakup berbagai aspek kognitif, affektif, dan psikomotor maupun aspek psikologi lainnya. Proses ini akan memberi masukan ulang secara objektif kepada orang tua mengenai anak mereka (siswa) dan kepada sekolah yang bersangkutan dan kepada sekolah yang bersangkutan maupun sekolah lainnya mengenai performan sekolah sehubungan dengan proses peningkatan mutu pendidikan.
Personil sekolah ; sekolah bertanggung jawab dan terlibat dalam proses rekrutman (dalam arti penentuan jenis guru yang diperlukan) dan pembinaan struktural staf sekolah (kepala sekolah, wakil kepala seekolah, guru dan staf lainnya). Sementara itu pembinaan profesional kolah, guru dan staf lainnya). Sementara itu pembinaan profesional kolah, guru dan staf lainnya). Sementara itu pembinaan profesional dalam pembinaan keterampilan guru dan pengimplementasian kurikulum termasuk staf kependidikan lainnya dilakukan secara terus menerus atas inan lainnya dilakukan secara terus menerus atas inisiatif sekolah. Untuk itu biroksiatif sekolah. Untuk itu birokrasi di luar sekolah berperan untuk menyediakan wadah dan instrumen pendukung. Dalam konteks ini pengembangan profesional harus menunjang peningkatan mutu dan penghargaan terhadap prestasi harus dikembangkan. Manajemen sekolah untuk mengkontrol sumber daya manusia, fleksibilitas dalam merespon kebutuhan masyarakat, misalnya peningkatan guru honorer untuk keterampilan guru yang khas, atau muatan lokal. Demikian pula mengirim guru untuk berlatih diintitusi yang dianggap tepat.
Strategi implementasi MPMBS dilakukan melalui tahapan sebagai berikut :
1) Penyusun basis data dan fropil sekolah presntatif, akurat, vailid, dan secara sistematis menyangkut berbagai aspek akademis, administratif (siswa, guru, staf) dan keuangan.
2) Melakukan evaluasi diri (self assesment) untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya sekolah, personol sekolah, kinerja dalam mengembangkan dan mencapai target kurikulum dan hasil-hasil yang di capai siswa berkaitan dengan aspek-aspek intelektual dan keterampilan, maupun aspek lainnya.
3) Berdasarkan analisis tersebut sekolah harus mengidentifikasikan kebutuhan sekolah dan merumuskan misi, visi dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya sesuai dengan konsep pembangunan pendidikan nasional yang akan di capai. Hal penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan identifikasi kebutuhan dan perumusan misi, visi, dan tujuan adalah bagaimana siswa belajar, penyediaan sumber daya dan pengelolaan kurikulum termasuk indikator pencapaian indikator mutu tersebut.
4) Berngkat dari visi, misi dan tujuan peningkatan mutu tersebut sekolah bersama-sama masyatakatnya merencanakan dan menyusun program jangka panjang atau jangka pendek (tahunan termasuk anggarannya).(Umaedi, 1999 : 11)
BAB III
HASIL OBSERVASI DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Observasi
SD Plus Assalaam
Data Narasumber
Nama : Iman Nudin
Alamat : Jln. Taman Sari
Riwayat Pendidikan : SD, SMP, SPG, S1 UNPAS, Kemudian masih melanjutkan studi S2 Di STKIP Pasundan
Status : PNS (diperbantukan di sekolah swasta)
Guru Bidang Studi : Bahasa Indonesia dan sebagai pemegang kurikulum
Lama masa jabatan di SD Plus Assalaam : 12 tahun
Data Sekolah
Visi misi : membina akhlak meraih prestasi
Fasilitas : - Lab. Bahasa Inggris
- Lab. Komputer
- Aula
- Ruang kesenian
- Lab IPA
- Lapangan Basket
- Perpustakaan
Ekstrakulikuler:
1. Drumband
2. Futsal
3. Karate
4. Pencak silat
5. Paskibra
6. Baca tulis Al-Quran
7. dll
Prestasi Dalam Kurun waktu 2 tahun terakhir
1. Peraih Juara 1 UAS BN dengan nilai tertinggi se-kecamatan
2. Juara I Taekwondo se-Kota Bandung
3. Juara Futsal
4. Juara Paskibra se-Jawa Barat, Dsb
SD Plus Assalaam merupakan sekolah swasta yang berada dibawah naungan yayasan Assalaam. SD ini berdiri sejak tahun1958.Pada awalnya SD ini merupakan MI (Madrasah Ibtidaiyah), namun sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan SD ini berubah menjadi SD Plus Assalaam yang berbasis Islam. Dulunya, SD ini dibagi menjadi dua, yakni SD Plus Assalaam 1 dan SD Plus Assalaam 2. Namun, sejak tahun 2007 digabung menjadi SD plus Assalaam walaupun dalam pembelajarannya tetap dibagi menjadi kelas pagi dan siang karena siswa yang terlalau banyak. Jumlah seluruh siswa SD plus Assalaam ini sebanyak 1300 siswa. Karena sekolah ini merupakan sekolah swasta yang didanai dari siswa, sehingga SD ini tidak pernah membatasi kuota siswa baru karena SD ini pun menyediakan kelas sebanyak-banyaknya. Setiap kelas terdiri dari 28-38 siswa perkelas. SD ini mengadakan seleksi ketika masuk, namun seleksi itu diperuntukan hanya untuk placement test dan psikotest. Syarat untuk memasuki SD ini calon siswa harus sudah memenuhi syarat usia, dan mengikuti TK.
Karena SD ini merupakan lembaga dari sebuah yayasan, siswanya mayoritas berasal dari keluarga menengah ke atas, sehingga dana pemasukannya pun dapat dikatakan subsidi silang. Bagi anak yatim piatu yang diasuh oleh yayasan Assalaam, mereka dibebaskan biaya masuk maupun biaya SPP perbulan. Namun, bagi siswa biasa mereka dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 6.000.000,- dan SPP Rp. 300.000,- perbulan. Denganbiaya yang mahal, SD ini pun memberikan fasilitas dan pelayanan pendidikan yang baik. Setiap kelas sudah menjadi kelas Multimedia karena setiap kelas sudah difasilitasi Komputer, LCD dan Internet. Metode pembelajarannya pun memakai metode-metode pembelajaran modern yang menyenangkan.
SD ini memiliki banyak guru yang terbagi untuk kelas pagi dan siang, namun ada beberapa guru yang merangkap menjadi guru pagi dan siang. Ada juga guru piket yang berfungsi sebagai pengganti guru yang berhalangan hadir. Lulusan Guru merupakan S1, namun beberapa guru masih ada yang sedang menyelesaikan S1 di PGSD. Dengan biaya yang cukup mahal, SD Assalaam pun tidak ingin mengecewakan para orang tua murid yang telah mempercayakan anak-anak mereka untuk sekolah disini. Sekolah ini memiliki guru-guru yang sengaja diwajibkan untuk mengikuti Diklat, Pelatihan, Seminar dll. Guru-gurunya pun diikutkan kursus B.inggris dan Komputer. Gurunya pun sering melakukan studi banding keluar kota bahkan keluarnegeri dengan biaya dari sekolah. Guru-gurunya pun mendapatkan test khusus ketika akan masuk dan mengajar di SD ini.
Sekolah ini mewajibkan kedisiplinan bagi seluruh guru sebagai panutan bagi murid-muridnya. Selain kualitas guru, SD ini pun memberikan fasilitas fisik yang menunjang bagi keberlangsungan pembelajaran yang telah disebutkan di atas. Kurikulum di SD ini dikembangkan dan diperbanyak dari segi-segi keagamaan. Setiap tugas memiliki format penilaian guru yang harus ditandatangani oleh orang tua murid. Karena menjadi SD yang diunggulkan dari kecamatan tersebut, SD ini menjadi tempat proyek KTSP ketika tahun 2006. Dan memiliki peratutaran serta kedisiplinan yang tinggi.
B. Pembahasan
Peningkatan kualitas pendidikan adalah pilihan sekaligus orientasi pengembangan peradaban bangsa sebagai investasi masa depan pembangunan bangsa berjangka panjang. Orientasi ini mutlak dilakukan oleh karena pendidikan diyakini sebagai sarana utama pengembangan kualitas sumber daya manusia. Adapun Proses pendidikan yang bermutu melibatkan input, seperti ; bahan ajar, metodologi, sarana sekolah, dukungan adminitrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya, serta penciptaan suasana yang kondusif. Mutu “hasil pendidikan” mengacu pada prestasi yang di capai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu. Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan dapat berupa prestasi akademik maupun non-akademik. Dalam upaya meningkatan mutu pendidikan setidaknya harus ada komponen mutu yang menunjang, diantaranya:
Ø Kepemimpinan yang berorientasi pada mutu
Ø Pendidikan dan pelatihan (diklat)
Ø Struktur pendukung
Ø Komunikasi
Ø Ganjaran dan pengakuan
Ø Pengukuran
Komponen-komponen tersebut nampak dengan jelas diterapkan oleh SD Assalam. SD Assalam memiliki figure seorang pemimpin yang sangat berorientasi pada pengembangan kualitas output peserta didiknya, Kepemimpinan (leadership) berbeda dengan pemimpin (leader). Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok dengan maksud mencapai suatu tujuan yang dinginkan bersama. Sedangkan pemimpin adalah seseorang atau sekelompok orang seperti kepala, komandan, ketua dan sebagainya. Dari beberapa definisi dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan itu adalah suatu proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan bersama. Artinya terjadi proses interaksi antara pemimpin, yang dipimpin, dan situasi. Sehingga secara sederhana proses kepemimpinan dapat dirumuskan melalui formula berikut:
L = F (l, f, s)
Keterangan :
L = Leadership (kepemimpinan)
F = Function (fungsi)
l = Leaders (pemimpin)
f = Follower (pengikut/yang dipimpin)
s = Situation (situasi)
pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang sensitif atau peka terhadap adanya perubahan dan pemimpin yang melakukan pekerjaannya secara terfokus. memimpin berarti menentukan hal-hal yang tepat untuk dikerjakan, menciptakan dinamika organisasi yang dikehendaki agar semua orang memberikan komitmen, bekerja dengan semangat dan antusias untuk mewujudkan hal-hal yang telah ditetapkan. Memimpin berarti juga dapat mengkomunikasikan visi dan prinsip organisasi kepada bawahan. Kegiatan memimpin termasuk kegiatan menciptakan budaya atau kultur positif dan iklim yang harmonis dalam lingkungan lembaga atau organisasi, serta menciptakan tanggung-jawab dan pemberian wewenang dalam pencapaian tujuan bersama. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa, terdapat hubungan positif antara tanggungjawab, wewenang dan kemampuan pemimpin dengan derajat atau tingkat pemberdayaan karyawan dalam suatu lembaga. Jika kita berkaca pada SD Assalam, Jiwa kepemimpinan yang dimiliki oleh pimpinan nampak begitu terlihat, hal ini bisa terlihat dari mengikutsertakan tenaga pendidiknya dalam pelatihan-pelatihan peningkatan mutu tingkat nasional. selain dari itu, dengan adanya proses penyeleksian calon tenaga pendidik yang akan mengajar di sekolah dasar Assalam, baik dari segi pengetahuan, kepribadian juga dari segi agama, adalah salah satu upaya meningkatkan mutu pendidikan, sehingga tenaga pendidik yang dimiliki SD assalam merupakan tenaga pendidik yang memiliki kualifikasi pribadi yang baik, implikasi yang sangat terlihat pada tenaga pendidik di SD tersebut adalah memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi, yang berusaha diterapkan pula pada anak didiknya, selain itu sarana dan prasarana yang mendukung peningkatan mutu selalu dikembangkan oleh sekolah dasar tersebut.
Dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, kami berasumsi bahwa komponen yang paling penting adalah kualitas tenaga pendidik. Guru dalam hal ini merupakan kunci bagi tercapainya kualitas lulusan suatu satuan pendidikan. Fasilitas tidak akan banyak berpengaruh jika kapabilitas gurunya tidak mumpuni. Jadi perlu adanya peningkatan mutu tenaga pendidik demi terciptanya mutu pendidikan yang optimal. Tentu saja dengan tidak mengesampingkan aspek lain seperti kurikulum, sarana prasarana dan suvervisi.
Perwujudan mutu didasarkan pada keteramapilan guru dalam merencanakan, mengorganisasi, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Pemahaman dan keterampilan menjadi kunci untuk mewujudkan peningkatan mutu peserta didik. seiring berkembangnya zaman mengharuskan diupgrade nya kemampuan guru secara terus menerus. Untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik diperlukan kerjasama yang erat antara pihak sekolah, masyarakat dan pemerintah.
Fasilitas-fasilitas yang ada di sekolah dasar As-salam baik berupa laboratorium beberapa mata pelajaran dan sumber belajar yang mendukung merupakan struktur pendukung yang dapat meningkatkan mutu pendidikan. Selain dari itu, terprogramnya rapat bulanan yang membahas dan mengevaluasi kinerja selama satu bulan kebelakang adalah bentuk komunikasi, penghargaan dan pengukuran sejauh mana yayasan As-salam mampu “mendobrak dunia pendidikan” pada saat itu, sehingga apabila sudah ditelaah mengenai rating yang diperoleh sekolah dasar As-salam, maka yang ada adalah suatu bentuk pengakuan dan penghargaan terhadap Sekolah dasar As-salam tersebut.
Selain dari itu, kerangka manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah yang meliputi sumber daya, pertanggung jawaban, kurikulum, dan personil sekolah sudah teraplikasikan secara nyata oleh sekolah dasar As-salam. Sehingga dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa sekolah dasar As-salam memiliki manajemen peningkatan mutu yang terprogram dan tersusun secara sistematis, ini terlihat dari setiap tahunnya mengenai peningkatan mutu untuk sekolah dasar As-salam sendiri memiliki kurva yang semakin meningkat.
Gagasan lain tentang manajemen berbasis sekolah (MBS) yang ideal adalah menerapkan pada keseluruhan aspek pendidikan melalui pendekatan sistem. Konsep ini didasarkan pada pendekatan manajemen sebagai suatu sistem. Seperti model ideal yang dikembangkan oleh Slamet P.H terdiri dari ouput, proses dan input. Input sekolah antara lain visi, misi, tujuan, sasaran, struktur organisasi, input manajemen, input sumber daya. Output sekolah diukur dengan kinerja sekolah, yaitu pencapaian atau prestasi yang dihasilkan oleh proses sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari efektivitas, kualitas, produktivitas, efisiensi, inovasi, moral kerja. Proses sekolah adalah proses pengambilan keputusan, pengelolaan kelembagaan pengelolaan program, dan belajar mengajar. Model MBS ideal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Kualitas dan inovasi Pengelolaan Efektivitas
Akan tetapi, peningkatan mutu yang terjadi di sekolah dasar As-salam ini berbanding lurus dengan biaya yang harus dikeluarkan, baik oleh pihak sekolah sendiri maupun dari pihak orang tua siswa, terlebih sekolah dasar As-salam ini berstatus bukan negeri (swasta). Sehingga refleksi dari fenomena tersebut seolah-olah sekolah dasar As-salam ini merupakan sekolah yang diperuntukan untuk orang-orang yang memiliki dana lebih. Dan apabila kita membandingkan ke sekolah dasar lainnya cenderung kualitasnya di bawah sekolah dasar As-salam, hal ini terjadi terkait masalah dana untuk peningkatan mutu pada tiap-tiap satuan pendidikan tersebut.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Sekolah dasar assalam merupakan sekolah dasar yang sudah memiliki peningkatan mutu yang optimal, ini dapat dilihat dari rating yang dimiliki sekolah dasar tersebut, selain itu, empat tahapan strategi dalam manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah yang terdiri dari penyusunan basis data dan profil sekolah, menyusun evaluasi diri, mengidentifikasi kebutuhan sekolah dan merumuskan visi misi serta tujuan; menyusun program kerja jangka panjang sudah teraplikasikan secara riil.
B. Saran
Peningkatan mutu yang terjadi di sekolah dasar As-salam ini berbanding lurus dengan biaya yang harus dikeluarkan, baik oleh pihak sekolah sendiri maupun dari pihak orang tua siswa, terlebih sekolah dasar As-salam ini berstatus bukan negeri (swasta). Seharusnya pemerintah ikut serta dalam peningkatan mutu, tidak hanya karena melihat status yang dimiliki sekolahnya swasta, sehingga pemerintah angkat tangan terhadap sekolah yang bersangkutan, akan tetapi pemerintah juga bertanggung jawab terhadap kualitas individu pembangun bangsanya, tidak cukup hanya berupa bantuan operasional sekolah saja.
Daftar Pustaka
Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan. 2010. Pengelolaan Pendidikan. Bandung: Jurusan Administrasi Pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar