Oleh: Ahmadi Hasbie
Menurut beberapa beberapa pakar psikologi, Anak sudah
mulai ‘berbahasa’ sebelum dia dilahirkan. Melalui saluran intrauterine anak
telah terekspos pada bahasa manusia waktu dia masih janin. Kata-kata dari
ibunya tiap hari dia dengar dan secara biologis kata-kata itu 'masuk' dan ‘tertanam‘ pada janin anak. Anak bisa merasakan apa yang
disampaikan oleh ibunya. Kadang mereka diam tenang dalam perut ibunya, kadang
juga menendang atau meninju perut ibunya.
Mereka menganjurkan saat ibu hamil, agar mendengarkan musik-musik
instrumental yang membuat mereka relaks, atau mendengarkan/membaca ayat-ayat kitab
suci keagamaan.
Sedangkan menurut aliran psikolinguistik anak tidak
dengan tiba-tiba memiliki tata bahasa pertama dalam otaknya dan lengkap dengan
semua kaidahnya, tetapi diperolehnya dalam beberapa tahap dan setiap tahap
berikutnya lebih mendekati tata bahasa dari bahasa orang dewasa. Akan tetapi, Setelah
seorang anak lahir, ia akan memperoleh bahasa pertamanya dalam waktu yang
relatif singkat. Hal itu menurut Chomsky karena setiap orang diperlengkapi
sejak lahir dengan seperangkat peralatan yang memungkinkannya memperoleh bahasa
pertama, yang disebutnya sebagai language acquisition device (LAD) atau
'peralatan perolehan bahasa'. Menurutnya, LAD inilah yang membedakan manusia
dari hewan, dan merupakan ciri khas perolehan bahasa manusia, dibanding bentuk
perilaku non-bahasa makhluk lain.
Ahli bahasa ada yang membagi tahap pemerolehan bahasa ke
dalam tahap pralinguistik dan linguistik. Akan tetapi, pendirian
ini disanggah oleh banyak orang yang berkata bahwa tahap pralinguistik itu
tidak dapat dianggap bahasa yang permulaan karena bunyi-bunyi seperti tangisan
dan rengekan dikendalikan oleh rangsangan (stimulus) semata-mata, yaitu respons
otomatis anak pada rangsangan lapar, sakit, keinginan untuk digendong, dan
perasaan
senang.
Tahap linguistik terdiri atas beberapa tahap,
yaitu (1) tahap pengocehan (babbling); (2) tahap satu kata (holofrastis);
(3) tahap dua kata; (4) tahap menyerupai telegram (telegraphicspeech).
Sedangkan Schaerlaekens membagi fase-fase perkembangan bahasa anak dalam empat
periode, diantaranya: a) Periode Prelingual
(usia 0-1 tahun), b) Periode Lingual Dini
(usia 1-2,5 tahun), c) Periode Diferensiasi
(usia 2,5- 5 tahun), d) Periode Menjelang Sekolah
(sesudah usia 5 tahun)
Menurut
Yusuf dalam buku yang berjudul Psikologi
Perkembangan dijelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
bahasa anak diantaranya: faktor kesehatan, intelegensi, status sosial ekonomi
keluarga, jenis kelamin dan hubungan keluarga.
Berkaitan dengan hubungan keluarga, anak yang menjalin
hubungan dengan keluarganya secara sehat (penuh perhatian dan kasih sayang dari
kedua orang tuanya) dapat memfasilitasi perkembangan bahasanya. Sebaliknya, jika
hubungan anak dan orang tuanya tidak sehat, maka perkembangan bahasa anak
cenderung stagnasi atau mengalami kelainan, seperti: gagap, kata-katanya tidak
jelas, berkata kasar dan tidak sopan, serta merasa takut untuk mengungkapkan
pendapatnya.
Setelah anak masuk jenjang sekolah, maka mulailah ia
menerima pembelajaran bahasa.
Pembelajaran bahasa merupakan proses mengajarkan bahasa agar siswa mampu
berkomunikasi secara baik secara lisan maupun tulisan. Guru dalam memaksimalkan kemampuan bahasa dikelas rendah,
hendaknya:
·
Memahami karakteristik perkembangan bahasa
anak
·
Membangun iklim pembelajaran yang kondusif
dan inspiratif
·
Menerapkan berbagai pendekatan pembelajaran bahasa
sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
Berikut ini beberapa pendekatan pembelajaran bahasa yang
dapat digunakan oleh guru:
1. Pendekatan Whole Language
belajar
bahasa berdasarkan sebuah wacana. Belajar sesungguhnya yakni benar-benar
belajar bahasa sebagai alat komunikasi. Ciri dari pendekatan Whole Language adalah
utuh dan terpadu yakni simak, wicara, baca, dan tulis.
2. Pendekatan Komunikatif
Pendekatan
komunikatif mengembangkan prosedur
pembelajaran empat keterampilan berbahasa yakni menyimak, berbicara, membaca,
dan menulis. Pendekatan Komunikatif mempunyai ciri sebagai alat berkomunkasi
(berinteraksi), fungsional (bermakna).
3. Pendekatan Inquiry
Pendekatan
ini merupakan pendekatan yang menekankan anak untuk mencari dan menemukan
sesuatu untuk memperoleh bahasa.
4. Pendekatan Konstruktivisme
Pendekatan
ini meyakini bahwa belajar adalah proses aktif menghubungkan pengalaman dengan
pengetahuan, membentuk atau menyusun dalam rangkaian kegiatan yang
terus-menerus.
5.
Pendekatan Keterampilan Proses
Pendekatan
keterampilan proses merupakan pendekatan yang berfokus pada pelibatan secara
aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar.
6. Pendekatan Tematis Integratif
Pendekatan
pembelajaran bahasa yang berdasarkan tema dan dilaksanakan secara terpadu untuk
memperoleh kemampuan berbahasa. meliputi: (a) mendengarkan (menyimak); (b)
berbicara; (c) membaca; dan (d) menulis. Keempat aspek tersebut mengarah kepada
siswa agar memiliki kemampuan berbahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar